Jumat Pagi, Gempa Bumi Terjang Kabupaten Buru Selatan, Provinsi Maluku

Jumat Pagi, Gempa Bumi Terjang Kabupaten Buru Selatan, Provinsi Maluku

Bandung – Melalui Keterangan resminya, Pusat Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi  melaporkan terjadinya gempa bumi di Kabupaten Buru Selatan, Provinsi Maluku, berdasarkan informasi yang diperoleh dari BMKG, USGS Amerika Serikat, Gfz Jerman, dan hasil analisis Pusat Vulakanologi dan Mitigasi Bencana Geologi sebagai berikut:

 Informasi gempa bumi

Gempa bumi terjadi pada hari Jumat, tanggal 7 Agustus 2020, pukul 10:00:41 WIB. Berdasarkan informasi dari BMKG, lokasi pusat gempa bumi terletak di laut pada koordinat 126,21° BT dan 3,82° LS, dengan magnitudo (M5,5) pada kedalaman 10 km, berjarak sekitar 58,3 km barat Kota Namrole (ibu kota Kabupaten Buru Selatan, Provinsi Maluku).

Berdasarkan data dari The United States Geological Survey (USGS), Amerika Serikat, lokasi pusat gempa bumi terletak pada koordinat 126,268° BT dan 3,817° LS, dengan magnitudo (M5,4) pada kedalaman 10 km. Menurut informasi dari GeoForschungsZentrum (GFZ), Jerman, lokasi pusat gempa bumi terletak pada koordinat 126,33° BT dan 3,83° LS, dengan magnitudo (M5,3) pada kedalaman 10 km.

Kondisi geologi daerah terdekat pusat gempa bumi

Wilayah yang terletak dekat dengan sumber gempa bumi adalah Kabupaten Buru Selatan dan Pulau Buru bagian barat daya. Wilayah tersebut pada umumnya merupakan morfologi pantai dan perbukitan pada bagian atasnya yang disusun oleh batuan berumur Pra Tersier (terdiri – dari batuan metamorf), Tersier (terdiri – dari batuan sedimen) dan Endapan Kuarter (terdiri – dari endapan pantai dan aluvial). Sebagian batuan berumur Pra Tersier dan Tersier tersebut telah mengalami pelapukan.

Endapan Kuarter dan batuan berumur Pra Tersier dan Tersier yang telah mengalami pelapukan tersebut bersifat urai, lunak, lepas, belum kompak (unconsolidated) dan memperkuat efek guncangan, sehingga rawan guncangan gempa bumi. Selain itu morfologi terjal yang tertutup oleh batuan berumur Pra Tersier dan Tersier yang telah mengalami pelapukan akan berpotensi terjadi gerakan tanah bila dipicu guncangan gempabumi kuat di daerah Kabupaten Buru Selatan dan Pulau Buru bagian barat daya.

Penyebab gempa bumi

Berdasarkan lokasi pusat gempa bumi, kedalaman, dan data mekanisme sumber dari USGS, maka kejadian gempa bumi tersebut diperkirakan berasosiasi dengan aktivitas sesar normal berarah timur laut – barat daya yang terletak di barat daya Pulau Buru.

Dampak gempa bumi

Hingga tanggapan ini dibuat belum ada informasi korban jiwa dan kerusakan bangunan yang diakibatkan oleh kejadian gempa bumi ini. Menurut data BMKG guncangan gempa bumi dirasakan di wilayah Kabupaten Buru Selatan pada skala intensitas IV MMI (Modified Mercally Intensity). Gempa bumi ini tidak menyebabkan tsunami, karena meskipun pusat gempa bumi terletak di laut, namun energinya tidak cukup kuat untuk memicu terjadinya tsunami.

Rekomendasi

(1) Masyarakat dihimbau untuk tetap tenang dan mengikuti arahan serta informasi dari petugas BPBD setempat. Jangan terpancing oleh isu yang tidak bertanggung jawab mengenai gempa bumi dan tsunami.  (2) Masyarakat agar tetap waspada dengan kejadian gempa bumi susulan, yang diperkirakan kekuatannya lebih kecil. (Tor)***

Rektor UIN Bandung Sebut Mayoritas Mahasiswanya Dapat Keringanan UKT Sebesar 10 Persen

Rektor UIN Bandung Sebut Mayoritas Mahasiswanya Dapat Keringanan UKT Sebesar 10 Persen

Bandung – Rektor UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Prof. Dr. Mahmud, M.Si memastikan hampir seluruh mahasiswanya, baik program Diploma maupun Sarjana, mendapat keringanan UKT pada semester ganjil tahun akademik 2020/2021. Keringan yang diberikan berupa pemotongan biaya UKT sebesar 10%.

“Mahasiswa UIN Bandung tercatat berjumlah 23.121 orang. Sebanyak 20.642 atau sekitar 90% mahasiswa menerima keringanan UKT berupa pemotongan 10%, dengan total lebih Rp5,6 miliar,” terangnya di gedung O. Djauharuddin AR, Jumat (07/08/2020).

“Ada 2.479 mahasiswa atau sekitar 10% yang tidak mendapat keringan karena mereka masuk dalam K1 dan karena alasan sudah menerima beasiswa,” ungkapnya dalam keterangan tertulis UIN Bandung.

Kementerian Agama telah menerbitkan Keputusan Menteri Agama (KMA) No 515 tahun 2020 tentang Keringanan Uang Kuliah Tunggal (UKT) Pada Perguruan Tinggi Keagamaan Negeri (PTKN) atas Dampak Bencana Wabah Covid-19. KMA ini terbit pada 12 Juni 2020. Sebagai tindak lanjut, UIN Bandung menerbitkan kebijakan memberikan keringanan UKT.

Selain pemotongan, keringan UKT diberikan dalam bentuk perpanjangan masa pembayaran. Mahasiswa diberi kesempatan membayar dalam rentang 15 Juli sampai 14 Agustus 2020. “Pembayaran UKT juga bisa dilakukan dengan cara diangsur atau dicicil sebanyak dua kali,” jelasnya.

Khusus bagi orang tua yang terdampak covid, UIN Bandung memberi tambahan keringan UKT. Jika ada orang tua atau wali mahasiswa yang wafat karena Covid, UIN beri potongan UKT sebesar 100%. “Saat ini tercatat ada empat mahasiswa yang mendapat keringan potongan UKT hingga 100%,” tuturnya.

Wakil Rektor II Bidang Administrasi Umum, Perencanaan dan Keuangan, Dr. H. Tedi Priatna, M.Ag menambahkan, jika ada orang tua atau wali yang terkena dampak Covid seperti di PHK, atau mengalami kerugian dan penutupan usaha, atau mengalami penurunan pendapatan secara signifikan, maka mahasiswa tersebut juga akan menerima tambahan keringanan pemotongan UKT 10%. Sehingga, totalnya menjadi 20%.

“Katergori ini jumlahnya cukup signifikan. Data kami mencatat ada 1.455 mahasiswa yang mendapat pemotongan 20%,” terangnya. “936 mahasiswa juga sudah mengajukan permohonan untuk melakukan pembayaran dengan sistem mencicil dua kali,” lanjut Mahmud.

Menurutnya, kebijakan ini menjadi bagian dari kepedulian kampus terhadap mahasiswa. Dia berharap tidak ada mahasiswa UIN Bandung yang putus kuliah karena terdampak pandemi Covid. (Tor)

Baca Juga : Akibat Pandemi, 132.929 Pendaftar Ikuti UM-PTKIN secara Daring

Jabar Jamin Verifikasi Ketat Sekolah Tatap Muka di Zona Hijau

Jabar Jamin Verifikasi Ketat Sekolah Tatap Muka di Zona Hijau

Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat Dedi Supandi. (Foto: Humas Disdik)

Bandung – Prinsip kehati-hatian diterapkan Pemerintah Daerah (Pemda) Provinsi Jawa Barat (Jabar) dalam pelaksanaan kegiatan belajar tatap muka. Keselamatan dan kesehatan peserta didik menjadi prioritas.

Teritorial pelaksanaan kegiatan belajar tatap muka SMA/SMK/SLB direduksi dari skala kabupaten/kota menjadi tingkat kecamatan. Per 5 Agustus 2020, terdapat 228 kecamatan di Jabar berstatus zona hijau.

Kendati begitu, tidak semua sekolah yang berada di 228 kecamatan dapat menggelar kegiatan belajar tatap muka. Sebab, ada sejumlah daftar ceklis periksa yang harus dipenuhi.

Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Provinsi Jabar Dedi Supandi mengatakan, pihaknya sudah membuat indikator-indikator pelaksanaan kegiatan belajar tatap muka.

Pertama, sekolah harus berada di zona hijau. Kedua, kegiatan belajar tatap muka diutamakan bagi siswa yang bertempat tinggal di wilayah dengan jaringan internet tidak mumpuni ataupun blank spot.

“Khusus SMK, kegiatan belajar tatap muka akan diisi dengan pelajaran yang sifatnya praktik. Karena untuk mendapatkan sertifikat keahlian harus ditempuh dengan praktik, dan praktik bisa ditempuh dengan tatap muka,” kata Dedi dalam jumpa pers di GOR Saparua, Kota Bandung, Jumat (7/8/20).

Dedi menyatakan, tidak semua guru dapat terlibat dalam kegiatan belajar tatap muka. Guru yang berusia di bawah 45 dan tidak mengidap penyakit penyerta (comorbid) yang dapat mengajar selama pandemi COVID-19.

Sebelum kegiatan belajar tatap muka dimulai, guru yang memenuhi klasifikasi akan menjalani rapid test atau swab test. Tujuannya memastikan guru dalam kondisi sehat.

“Dari 228 kecamatan, kami masih melakukan verifikasi. Belum semuanya dikatakan pasti mengadakan kegiatan belajar tatap muka. Sampai kapan tatap muka akan dilakukan? Kami masih butuh waktu dua pekan untuk memverifikasi,” ucapnya dalam keterangan tertulis Pemprov Jabar.

Sekolah yang berada di zona hijau harus lebih dulu mengajukan kesiapan pembelajaran tatap muka. Pengajuan itu diserahkan kepada Kantor Cabang Dinas Pendidikan Wilayah Jabar.

Pengawas dari Kantor Cabang Pendidikan Wilayah Jabar akan mengecek indikator-indikator kegiatan tatap muka yang harus dipenuhi sekolah.

“Rekomendasi dari pengawas akan diteruskan ke Gugus Tugas Kabupaten/Kota. Nanti Gugus Tugas Kabupaten/Kota meninjau ulang protokol kesehatan di sekolah,” kata Dedi.

“Sekolah harus membentuk Satuan Tugas (Satgas). Menjalin kerja sama dengan Puskesmas. Waktu kegiatan belajar dibatasi 4 jam. Penyediaan tempat cuci tangan, dan banyak protokol yang mesti dipenuhi, termasuk izin dari orang tua,” imbuhnya.

Dedi mengatakan, sekolah harus membagi rombongan belajar atau sif karena maksimal 18 peserta didik per kelas. Pola pembelajaran, kata ia, akan menerapkan blended learning atau mengombinasikan kegiatan belajar tatap muka dengan daring.

“Minggu ini kelas 10, minggu depan kelas 11, minggu depannya lagi kelas 12 yang sekolah tatap muka. Minggu ini tatap muka, minggu depan daring lagi,” ucapnya.

“Penetepan sekolah yang dapat melaksanakan kegiatan belajar tatap muka masih kami verifikasi. Prinsip kami tetap bahwa keselamatan dan kesehatan peserta didik adalah yang utama,” tambahnya. (Tor)***

 

Baca Juga : Gubernur Jabar Keluarkan SK Penugasan 1.461 Guru Non-PNS Bersertifikat Pendidik

Kabupaten Talaud, Sulawesi Utara Diguncang Gempa dengan Magnitudo 5,2

Kabupaten Talaud, Sulawesi Utara Diguncang Gempa dengan Magnitudo 5,2

Bandung – Melalui keterangan resmi, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi Badan Geologi (PVMBG) menyampaikan laporan tanggapan terjadinya gempa bumi di Kabupaten Talaud, Provinsi Sulawesi Utara, berdasarkan informasi yang diperoleh dari BMKG, Jakarta dan USGS Amerika Serikat serta hasil analisis Pusat Vulakanologi dan Mitigasi Bencana Geologi sebagai berikut:

1. Informasi gempa bumi

Gempa bumi terjadi pada hari Kamis tanggal 6 Agustus 2020 pukul pukul 22:40 WIB. Menurut informasi dari BMKG lokasi pusat gempa bumi berada di laut pada koordinat 4,72°LU dan 127,430°BT, dengan magnitudo (M5,2) pada kedalaman 10 Km, berjarak sekitar 114 km timur laut Kota Melonguane (ibu kota Kabupaten Talaud, Provinsi Sulawesi Utara). The United States Geological Survey (USGS) Amerika Serikat melaporkan bahwa lokasi pusat gempa bumi terletak pada koordinat 127,438°BT dan 4,718°LS dengan magnitudo (M4,8) pada kedalaman 61,5 km.

2. Kondisi geologi daerah terkena gempa bumi

Lokasi pusat gempa bumi terletak lebih dekat dengan daerah Kabupaten Talaud. Daerah ini pada umumnya tersusun oleh endapan Kuarter yang terdiri – dari endapan pantai, endapan sungai dan batuan rombakan gunungapi yang sebagian telah mengalami pelapukan. Endapan Kuarter dan batuan rombakan gunungapi yang telah mengalami pelapukan bersifat lepas, lunak, belum kompak (unconsolidated) dan memperkuat efek guncangan, sehingga rawan guncangan gempa bumi.

3. Penyebab gempa bumi

Berdasarkan lokasi dan kedalaman pusat gempa bumi, maka kejadian gempa bumi ini diakibatkan oleh aktivitas penunjaman lempeng Philiphina yang membentang di sebelah timur Pulau Morotai, Kabupaten Talaud hingga timur Philiphina. Mekanisme kejadian gempa bumi dari sumber ini pada umumnya merupakan sesar naik yang berarah relatif utara barat laut – selatan tenggara.

4. Dampak gempa bumi

Hingga tanggapan ini dibuat belum ada laporan korban jiwa dan kerusakan akibat kejadian gempa bumi ini. Guncangan gempa bumi di daerah Kabupaten Talaud diperkirakan pada skala III – IV MMI (Modified Mercally Intensity). Kejadian gempa bumi ini tidak berpotensi menimbulkan tsunami, karena energinya tidak cukup untuk mengakibatkan terjadinya deformasi bawah laut yang dapat memicu terjadinya tsunami.

5. Rekomendasi

a) Masyarakat dihimbau untuk tetap tenang, mengikuti arahan dan informasi dari pemerintah daerah dan BPBD setempat, dan tidak terpancing oleh isu yang tidak bertanggung jawab mengenai gempa bumi dan tsunami.
b) Masyarakat agar tetap waspada dengan kejadian gempa bumi susulan yang kekuatannya semakin mengecil. (Tor)***

 

Baca Juga : Tak Hanya Api, Ini Kisah Diskar PB Kota Bandung Tangani Hewan Hingga Cincin