Wali Kota Bandung Peringatkan Potensi Penularan Covid-19 Terjadi di Lingkungan Keluarga

Wali Kota Bandung Peringatkan Potensi Penularan Covid-19 Terjadi di Lingkungan Keluarga

Wali Kota Bandung, Oded M. Danial (Dok. Humas Pemkot)
Bandung – Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Kota Bandung, Oded M. Danial mengimbau masyarakat untuk ekstra waspada.

Sebab, dari hasil pelacakan Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung menemukan penyebaran di lingkungan keluarga.

Oded menyebutkan, hingga saat ini Dinas Kesehatan (Dinkes) sudah melakukan 43.019 rapid test atau 1,73 persen dari jumlah penduuduk.

Kemudian 26.839 tes usap atau swab test yang setara dengan 1,08 jumlah penduduk.

“Dinas Kesehatan sudah mendeteksi dari 109 kepala keluarga ada 299 kepala keluarga yang dites terkonfirmasi positif Covid-19, atau sekitar 25,9 persen,” ungkap Oded di Balai Kota Bandung, Jalan Wastukancana, Kamis (24/9/2020).

Oleh karenanya, Oded menginstruksikan aparat kewilayahan untuk lebih memperketat pengawasan dan pengendalian. Yakni tidak hanya memantau sejumlah ruang publik saja, namun juga menyasar ke kawasan permukiman.

Sehingga, sambung Oded, pemetaan untuk penanganan Covid-19 di Kota Bandung tetap terkendali dengan baik. Setidaknya, level kewaspadaan di zona oranye bisa tetap dipertahankan dengan terus menambah angka kesembuhan.

“Sekarang ada empat kecamatan tanpa kasus Covid-19, yaitu Kecamatan Cinambo, Kecamatan Panyileukan, Kecamatan Sukajadi dan Kecamatan Bojongloa Kidul. Lalu ada 51 kelurahan tanpa kasus positif,” tegasnya dalam keterangan tertulis.

Hal yang lain, Oded mengungkapkan, Pemkot Bandung telah melakukan pelacakan terhadap pegawainya sebanyak 3.237 orang. Mereka berasal dari Organiasi Perangkat Daerah (OPD) maupun aparat kewilayahan.

Dari jumlah tersebut, 326 orang positif Covid-19, yakni 229 orang domisili Kota Bandung dan 97 orang domisili luar Kota Bandung.

Per tanggal 23 September 2020 tersisa 15 orang atau 4,6 persen yang masih dalam pemantauan. Sedangkan 95,4 persen lainnya sudah dinyatakan sembuh.

“Sebanyak 15 orang yang masih dalam pemantauan. Mereka terdiri dari 9 warga Kota Bandung dan 6 lainnya warga luar Kota Bandung. Semuanya kini tengah mengisolasi mandiri,” kata Oded.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bandung, Rita Verita mengungkapkan, saat ini orang yang terpantau positif dari lingkungan keluarga ini tengah melaksanakan isolasi mandiri. Semuanya diketahui dalam kondisi sehat karena ketika terpapar statusnya sebagai Orang Tanpa Gejala (OTG).

“Awalnya hasil tracing. Ada yang periksa sendiri lalu, dilacak ke keluarga. Ternyata di keluarga banyak sekali yang positifnya. Rata-rata (dalam satu keluarga) ada 2-3 anggota keluarganya,” ungkap Rita.

Rita menuturkan, pelacakan bisa dilakukan dengan cepat dimulai dengan komunikasi lewat sambungan telepon. Selanjutnya ditindaklanjuti dengan pengetesan di puskesmas terdekat.

Menurut Rita, dari satu kepala keluarga itu sedikitnya dilakukan pelacakan terhadap 20-30 orang.

Sebab, mengingat perhitungan kasarnya satu orang bisa berinteraksi dengan sekitar 50 orang mulai dari lingkungan rumah, tempat bekerja ataupun lingkungan lainnya yang biasa dikunjungi.

Sebagai langkah antisipasinya, Rita pun mengimbau kepada masyarakat agar tetap mengikuti protokol kesehatan secara disiplin.

Sekalipun sedang berada di rumah, dia menyerukan agar masyarakat jangan terlena.

“Memang kami melihat dulu kegiatannya orang yang positif. Misalkan dari satu keluarga ada berapa orang, lalu kegiatannya ke mana saja selain bekerja atau ada ada kegiatan lainnya,” jelasnya. (Tor)***

Bahas Situasi Covid Terbaru di Jabar, Ini yang Disampaikan Ridwan Kamil ke Pak Luhut

Bahas Situasi Covid Terbaru di Jabar, Ini yang Disampaikan Ridwan Kamil ke Pak Luhut

Ridwan Kamil mengikuti rapat koordinasi (rakor) bersama Menteri Koordinator (Menko) Bidang Kemaritiman dan Investasi (Marves) Republik Indonesia (RI) Luhut Binsar Pandjaitan. (Dok. Humas Jabar)

Bandung – Gubernur Jawa Barat (Jabar) sekaligus Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanggulangan COVID-19 Jabar Ridwan Kamil mengikuti rapat koordinasi (rakor) bersama Menteri Koordinator (Menko) Bidang Kemaritiman dan Investasi (Marves) Republik Indonesia (RI) Luhut Binsar Pandjaitan dari Gedung Pakuan, Kota Bandung, Kamis (24/9/20)

Melalui videoconference, Kang Emil –sapaan Ridwan Kamil– melaporkan, berdasarkan data periode 14 hingga 20 September 2020, terdapat beberapa perkembangan yang baik dalam penanganan COVID-19.

Dari periode tersebut, terdapat tiga daerah Zona Merah (Risiko Tinggi) di Jabar, hanya satu dari wilayah Bodebek yakni Kota Bekasi, sementara dua lainnya adalah Kabupaten Karawang dan Kota Cirebon.

Selain itu, Kang Emil memaparkan bahwa tingkat kematian akibat COVID-19 (case fatality rate) di Jabar menurun. Angka kesembuhan (recovery rate) pun meningkat.

“Sebelum ada koordinasi dari Pak Menko itu, (tingkat kematian akibat COVID-19) di Jabar 2,4 persen, sekarang di angka 1,88 persen. Recovery rate sebelumnya di angka 53 persen, sekarang sudah membaik menjadi 59 persen (58,91 persen) dan ini sudah membaik secara umum,” kata Kang Emil dalam keterangan tertulisnya.

“Kondisi ini tentu menjadi penyemangat bagi tim yang sekarang dikoordinasikan oleh Pak Menko,” tambahnya dalam rakor yang juga dihadiri Kepala BNPB, Gubernur DKI Jakarta, Kapolda Jabar, Pangdam III/Siliwangi, dan para kepala daerah lain se-Jabodetabek ini.

Terkait pergerakan masyarakat, ia menjelaskan bahwa meski terdapat penurunan pergerakan di destinasi wisata dan hotel di Jabar imbas pengetatan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) Jakarta, pihaknya terus memantau pergerakan dan kepadatan untuk menghindari penyebaran COVID-19.

“Saya instruksikan kepada Kapolda dan Pangdam untuk melalukan kegiatan inspeksi pengurangan kepadatan di zona-zona tempat makan dan cafe,” ujar Kang Emil.

Ia pun menegaskan bahwa Gugus Tugas Jabar terus fokus memantau kawasan industri, termasuk mendorong perusahaan untuk melakukan pengetesan PCR secara mandiri terhadap karyawannya.

Dalam rakor tersebut, Kang Emil juga melaporkan kondisi rumah sakit di Jabar.

Dari laporan 320 rumah sakit rujukan COVID-19 se-Jabar per 19 September 2020, saat ini keterisian tempat tidur ruang isolasi Hijau (untuk pasien dengan gejala ringan) adalah 46,24 persen, Kuning (gejala sedang) sebesar 62,61 persen, dan Merah (gejala berat) sebesar 50,92 persen. Sementara untuk keterisian IGD mencapai 19,04 persen dan ICU sebesar 39,59 persen.

Dari jumlah tersebut, 10 rumah sakit yang merawat terbanyak pasien COVID-19 didominasi oleh rumah sakit di wilayah Bodebek.

“Wilayah Bodebek menjadi paling banyak dalam menangani kasus COVID-19 sebesar 80 persen,” kata Kang Emil dalam keterangan tertulisnya.

Sementara itu, Menko Marves RI sekaligus Wakil Ketua Komite Kebijakan Pengendalian COVID-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional Luhut Binsar Pandjaitan mengimbau agar masyrakat tidak berkerumun di tempat makan dan cafe, khususnya di wilayah Jabodetabek.

Terkait dengan okupansi ICU di wilayah Jabodetabek, Luhut mengatakan kondisi terkini cukup tinggi yaitu sebesar 72,7 persen, beberapa wilayah memiliki angka kritis 80 persen termasuk Kota Depok.

“Untuk permasalahan tersebut nanti akan dibantu oleh Kemenkes melalui langkah-langkah yang tepat dalam menurunkan angka-angka tersebut menjadi sekitar 60 persen,” kata Luhut.

“Ini yang harus segera kita tangani lagi, jangan sampai kita terlalu panik, yang penting kita melakukan dengan mitigasi dengan tepat,” ujarnya. (Tor)***

Baca Juga : Ridwan Kamil Tinjau Kesiapan Fasyankes COVID-19 di RSKIA Kota Bandung

Pemprov Jabar Kembali Terima Bantuan Penanggulangan COVID-19

Pemprov Jabar Kembali Terima Bantuan Penanggulangan COVID-19

Gubernur Jawa Barat (Jabar) yang juga Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanggulangan COVID-19 Jabar Ridwan Kamil saat menerima bantuan dari para donatur untuk penanggulangan COVID-19 dan pembelajaran jarak jauh (PJJ) di Jabar. (Foto: Yogi P/Humas Jabar)

Bandung – Gubernur Jawa Barat (Jabar) yang juga Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanggulangan COVID-19 Jabar Ridwan Kamil menerima bantuan dari para donatur untuk penanggulangan COVID-19 dan pembelajaran jarak jauh (PJJ) di Jabar, di Gedung Pakuan, Kota Bandung, Kamis (24/9/20).

Donatur tersebut yakni PT. Smart Techtex (bantuan 1.400 pcs masker medis), PT. DNR Corporation (bantuan 100.000 sachet susu kambing dan perlengkapan swab test untuk 150 orang), dan Forum Guru Honorer Bersertifikat Sekolah Negeri (FGHBSN) Jabar (bantuan uang tunai Rp10 juta untuk menunjang PJJ).

Kang Emil –sapaan Ridwan Kamil– mengucapkan terima kasih kepada para donatur. Menurut ia, bantuan dari para donatur merupakan bela negara di tengah pandemi COVID-19.

“Terima kasih kepada guru honorer yang sudah memberikan bantuan, sudah bela negara dalam membantu Jabar di bidang pendidikan,” kata Kang Emil dalam keterangan tertulisnya.

“Semoga bisnisnya semakin sukses dan lancar, kami tidak akan pernah melupakan para donatur. Karena sudah membantu kami di saat perang melawan pandemi COVID-19 ini,” imbuhnya.

Dalam sambutannya, Kang Emil juga melaporkan bahwa pihaknya intens melakukan tes masif dengan metode PCR. Selain itu, pihaknya terus berupaya mengetes 1 persen dari jumlah populasi Jabar.

“Presentase pengetesan di Jabar pun kini sudah lebih banyak dari provinsi lain di Indonesia (kecuali DKI Jakarta) yaitu per hari ini sudah 330 ribu (sampel),” ucapnya.

“Untuk itu, kami pun membutuhkan peran swasta dalam pengetesan ini, dan akan kita coba maksimalkan, melalui pengetesan dari pemerintah dan ada yang mandiri lewat swasta,” tambahnya. (Tor)***

Baca Juga : Wow Jabar Terpilih Jadi Pilot Project CSIRT Indonesia 

Rahasia Bisnis Barbershop Tetap Bertahan Saat Pandemi ala Kevin Tania

Rahasia Bisnis Barbershop Tetap Bertahan Saat Pandemi ala Kevin Tania

Founder dari The Cut Rumah Barber dan Sekolah Barber Menford, Kevin Tania (kiri). (Foto : Dok. Pribadi)

DITENGAH pandemi seperti saat ini, tidak ada bisnis yang dapat dengan mudah bertahan.

Hal ini tentu menjadi masalah yang cukup merepotkan bagi para pembuka bisnis di manapun termasuk bisnis barbershop.

Benar adanya jika bisnis barbershop telah menjadi salah satu bisnis yang cukup terdampak oleh adanya pandemi.

Hal ini disebabkan karena bisnis barbershop merupakan bisnis penyedia layanan jasa yang mengharuskan pegawainya untuk berinteraksi langsung dengan pelanggan.

Sementara, di tengah pandemi seperti saat ini, berinteraksi langsung dengan pelanggan menjadi salah satu hal yang riskan untuk dilakukan.

Namun, hal ini tidak menjadi kendala bagi salah satu barber dan founder dari The Cut Rumah Barber dan Sekolah Barber Menford, Kevin Tania.

Melalui keterangan tertulisnya, Kevin Tania mengungkapkan beberapa rahasia jitu yang dapat diterapkan agar bisnis barbershop tetap sukses walaupun berada ditengah pandemi.

Berikut tiga kiat sukses bisnis barbershop di tengah pandemi

Pertama, menerapkan sistem loyalty, dimana barbershop harus mengutamakan kesetiaan yang diberikan oleh pelanggan.

Kevin Tania mengumpamakan akan lebih baik ada 30 pelanggan setia yang terus datang ke barbershop, daripada 50 orang yang hanya datang sekali dan tidak pernah datang lagi. Maka dari itu pertahankanlah customer setia di barbershop tersebut.

Kedua, Up-Selling Produk. produk adalah memperkenalkan produk-produk rambut yang diproduksi oleh barbershop tersebut, seperti contohnya produk rambut dari Menford.id yang merupakan hasil karya Kevin Tania.

Dirinya telah berhasil meningkatkan pemasukan bagi The Cut Rumah Barber dengan menerapkan cara ini.

Ketiga, meningkatkan safety protocol. sudah seharusnya bisnis barbershop melakukan protokol kesehatan yang sesuai dengan anjuran pemerintah.

Hal ini dimaksudkan agar para customer merasa nyaman dan aman untuk menggunakan layanan jasa yang ada di barbeshop tersebut.

Hal ini tentu akan membuat pelanggan merasa puas dan terlindungi dengan protokol kesehatan yang telah ditingkatkan. (Tor)***

Baca Juga : Pelaku UMKM Bisa Berkolaborasi dengan Ridwan Kamil untuk Desain Produk

UIN Sunan Gunung Djati Bandung Sukses Raih Pengakuan Internasional  SCImago Institutions Rankings

UIN Sunan Gunung Djati Bandung Sukses Raih Pengakuan Internasional SCImago Institutions Rankings

Bandung– Tahun ini, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati Bandung sukses memperoleh pengakuan Internasional dari lembaga SCImago Institutions Rankings (SIR) sebagai Perguruan Tinggi Nomor Satu di Indonesia dalam kinerja riset dan nomor 53 di tingkat Asia serta sebagai Perguruan Tinggi Nomor Satu di PTKIN versi Webometrik.

Mahmud, selaku Rektor UIN Sunan Gunung Djati Bandung mengungkapkan rasa syukur atas prestasi yang telah ditorehkan oleh kampus yang dipimpinnya. ” Hal ini memicu semangat untuk tetap mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi berparadigma wahyu memandu ilmu dalam bingkai ahlak karimah,” ujarnya.

Lanjut Mahmud, Distingsi inilah yang diarahkan agar sumber daya manusia UIN Sunan Gunung Djati Bandung mempunyai keunggulan yang kompetitif di tingkat Asia Tenggara pada tahun 2025. Untuk mendukung dalam mewujudkan Indonesia emas tahun 2045.

Berdasarkan data, prestasi UIN Sunan Gunung Djati Bandung  terhitung dari 2015  yang sudah memiliki 52 karya, hingga September 2020 ada 774 artikel terindex Scopus. Pada Tahun 2018 Kementerian Ristek Dikti RI memberikan anugrah Sinta Award Tahun 2018 ksebagai perguruan tinggi keagamaan paling produktif dalam publikasi Internasional di lingkungan Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI) se-Indonesia.

Di September 2020 sebanyak 35 Jurnal Terakreditasi Nasional indeks Sinta (Science and Technology Index) dengan rincian: sebelas jurnal mencapai Sinta-2 (S2); Delapan Jurnal di Sinta-3 (S3), Sembilan Jurnal di Sinta-4 (S4), dan Tujuh Jurnal di Sinta-5 (S5). Tahun 2020 pula, ada lima dosen kami yang terpilih sebagai 500 peneliti terbaik versi SINTA (Science and Technology Index).

” Hingga di bulan ini kami memiliki 707 catatan Hak Cipta paling tinggi di PTKI Kementerian Agama RI. Kita juga memiliki paten di bidang sains yang tercatat di ASEAN Patent Scope dan teregistrasi pada World Intellectual Property Organization (WIPO),” ujar Mahmud saat acara PBAK 2020, Rabu (23/9/2020).

Tak hanya itu, UIN Sunan Gunung Djati Bandung juga  menjadi pelopor dalam penyelenggaraan CBT, bahkan pada penerimaan mahasiswa baru pada Tahun 2020 dan Panitia Nasional UM-PTKIN Tahun 2020 dan 2021. Bahkan pada Tahun 2019 kampus ini juga sudah memiliki Rumah Moderasi Beragama di Kampus III yang dimana langsung diresmikan oleh Bapak Menteri Agama Republik Indonesia Fachrul Razi.

Melihat pencapaian tersebut, Direktur Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI) Kementerian Agama Republik Indonesia (Kemenag RI), Suyitno menekankan pentingnya peran mahasiswa di lingkungan PTKI tidak hanya untuk menyongsong Indonesia emas 2045, tapi harus menyebarkan Islam Rahmatan Lil Alamin sangat penting.

“Mahasiswa, dosen sangat berperan dalam mewujudkan kampus sebagai laboratorium kehidupan dan kontribusi perguruan tinggi dalam melakukan aktivitas kemanusiaan, seperti ikut terlibat untuk menangani Covid- 19 sangat dinantikan,”

Paling tidak, peran mahasiswa harus mampu melakukan; Pertama, Belajar Islam dengan benar.  Kedua, menjadi mahasiswa yang cerdas dan kritis (critical thinking). Mencerna segala informasi yang masuk menyaring dan mensharing dengan baik; Ketiga, menjadi warga medsos yang sehat.

“Keempat, melakukan counter narasi dan idiologi melawan intoleransi dan radikalisme; Kelima, bersinergi dan kolaborasi dalam rangka mewujudkan Indonesia Emas terutama dengan warga dunia global;  dan yang terakhir menjadi aktivis mahasiswa yang aktif melakukan desiminasi moderasi beragama dan semangat kebangsaan,” pungkasnya. (Tor)***

Baca juga: Sebanyak 7329 Mahasiswa Baru UIN Sunan Gunung Djati Bandung Berhasil Dilantik

Sebanyak 7329 Mahasiswa Baru UIN Sunan Gunung Djati Bandung Berhasil Dilantik

Sebanyak 7329 Mahasiswa Baru UIN Sunan Gunung Djati Bandung Berhasil Dilantik

 

Bandung– Rektor Universitas Islam Negeri  (UIN) Sunan Gunung Djati Bandung, Mahmud melantik sebanyak 7329 mahasiswa baru angkatan 2020/2021 dalam Sidang Senat Terbuka, Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) yang digelar secara daring, Rabu (23/09/2020).

Kegiatan yang digelar selama dua  hari  ini mengangkat tema Moderasi Beragama Pilar Membangun Indonesia Emas 2045 dan wajib diikuti oleh seluruh mahasiswa baru dan mahasiswa lama yang belum mengikuti PBAK.

Mahmud mengucapkan selamat datang kepada mahasiswa baru di Kampus UIN Sunan Gunung Djati Bandung berbasis wahyu memandu ilmu dalam bingkai akhlak karimah. Ia mengatakan bahwa kampus tidak memberi jaminan sukses, melainkan siap menjadi jembatan penghubung untuk  mencapai keberhasilan.

“Mari kita bekerjasama untuk menggapai cita-cita mulia melalui kampus tercinta UIN Sunan Gunung Djati Bandung, terlebih lagi kalian sudah menjadi mahasiswa pilihan, unggul, terbaik dan hebat. Karena itu, harus mampu membuktikan keunggulan dan kehebatan dengan belajar sungguh-sungguh, tekun, kerja kejas, kerja cerdas, kerja tuntas, cepat selesai tepat waktu, serta berprestasi,” tegasnya.

Menurut Mahmud, untuk mewujudkan Indonesia emas tahun 2045 maka perlu untuk mengembangkan terus Islam Nusantara yang berkemajuan, toleran, moderat dan rahmatan lil’alamin.  Seperti halnya, visi  kampus yaitu menjadi Universitas Islam Negeri yang Unggul dan Kompetitif Berbasis Wahyu Memandu Ilmu dalam Bingkai Akhlak Karimah di Asia Tenggara Tahun 2025.

Saat ini UIN Sunan Gunung Djati Bandung sudah mempunyai 9 Fakultas dan 1 Pascasarjana dengan jumlah program studi/jurusan 60 prodi. Seluruhnya terakreditasi A dan B serta hanya ada 4 program studi/jurusan dalam status terakreditasi (Prodi Baru) dalam proses assessment lapangan.

Sementara itu, Ketua Pelaksana PBAK 2020,  AH. Fathonih mengatakan melalui PBAK ini mahasiswa bisa menjadi calon pemimpin masa depan  dan mampu menyebarkan Islam penuh dengan kedamaian di muka bumi. Adapun harapannya kegiatan ini bisa memberikan pemahaman secara komprehensif kepada mahasiswa baru tentang wawasan kebangsaan dan keislaman.

“Tak hanya itu, mahasiswa juga harus mengetahui dan memahami visi, misi UIN Sunan Gunung Djati Bandung, fakultas serta kebijakan pengembangan aspek akademik, tata kelola organisasi kemahasiswaan, dan kerja sama,” tutupnya. (Tor)***

Baca juga : Meski Pandemi, UIN Bandung Terus Tingkatkan Kualitas Kampus

 

 

 

Ridwan Kamil Minta Warga Jabar Dapat  Adaptasi dan Miliki Budaya Tangguh Bencana

Ridwan Kamil Minta Warga Jabar Dapat Adaptasi dan Miliki Budaya Tangguh Bencana

Gubernur Jawa Barat (Jabar) Ridwan Kamil menjadi pembicara utama dalam web seminar “West Java Resilience Culture Province” di Gedung Pakuan, Kota Bandung, Rabu (23/9/20). (Foto: Yogi P/Humas Jabar)

Bandung– Gubernur Jawa Barat (Jabar) Ridwan Kamil meminta warga Jabar bisa menyesuaikan diri dan memiliki budaya tangguh bencana. Mengingat terdapat 1.500 hingga 2.000 bencana yang terjadi di Jabar setiap tahun.

“Saya minta masyarakat Jabar mulai menyesuaikan diri dengan budaya tangguh dalam menghadapi bencana, karena letak geografis Jabar yang kelihatannya indah, tapi juga berbahaya dan tentunya dapat menimbulkan bencana,“ kata Kang Emil saat menjadi pembicara utama dalam web seminar “West Java Resilience Culture Province” di Gedung Pakuan, Kota Bandung, Rabu (23/9/20).

Pemerintah Daerah (Pemda) Provinsi Jabar pun telah menyiapkan cetak biru Jabar sebagai provinsi berbudaya tangguh bencana (resilience culture province). Budaya Tangguh Bencana Jabar ini akan ditanamkan kepada seluruh warga melalui pendidikan sekolah sejak dini hingga pelatihan.

Dalam menyusun Budaya Tangguh Bencana Jabar,  Emil berujar bahwa pihaknya merujuk kepada Jepang, di mana budaya tangguh untuk menghadapi bencana sudah ditanam dalam pola pikir dan budaya masyarakatnya sejak sekolah dasar.

“Maka dari itu, kami mencoba belajar ke arah yang sama, yang kami butuhkan adalah mengubah semua kondisi yang ada dalam penanganan bencana menjadi sebuah budaya tangguh dalam menghadapi bencana, Pemda Provinsi Jabar mencoba mengubah pola pikir baru ini menjadi apa yang kami sebut budaya tangguh,” tambahnya.

6 Pilar Ciptakan Budaya Bencana di Jabar

Adapun menurut Emil, terdapat enam faktor atau pilar penting untuk menciptakan budaya tangguh bencana di Jabar. Pertama, mendidik warga dan memberikan pengetahuan agar mereka bisa bersikap preventif soal kebencanaan.

Kedua, memberikan pengetahuan tentang budaya tangguh bencana kepada seluruh pemangku pendidikan mulai dari sekolah dasar sehingga tangguh bencana menjadi bagian dari ilmu pengetahuan sehari-hari masyarakat Jabar.

“Ketiga, kami mencoba merancang infrastruktur yang tahan bencana, dimulai (contohnya) dari kawasan yang berpotensi tsunami, nantinya akan didesain berbeda dengan infrastruktur yang rawan banjir di perkotaan,” kata Kang Emil.

Keempat, lanjutnya, menciptakan karakater tangguh bencana melalui kinerja lembaga pemerintahan dalam mengambil kebijakan, termasuk contohnya terkait pandemi COVID-19 yang saat ini terjadi.

“Kami belajar bahwa regulasi dan kebijakan harus menyesuaikan dengan jenis bencana, mulai dari bencana alam, bencana kesehatan, hingga bencana buatan manusia,” ucap Kang Emil.

Kelima, membuat lingkungan tempat tinggal yang memiliki konsep berkelanjutan dengan memperhatikan faktor penting 3P yaitu planet, people, dan profit. “Jadi ada keseimbangan ekonomi, lingkungan, dan keadilan sosial. Itulah yang kami sebut ekologi ketahanan,” tutur Kang Emil.

Terakhir, pilar keenam bertujuan menghidupi kebutuhan pascabencana melalui pembiayaan yang sudah disiapkan. Pembiayaan tangguh. Artinya anggaran dimiliki untuk pembangunan tidak hanya dilakukan selama bencana, tetapi juga dalam keadaan darurat ataupun pascabencana, dengan mempersiapkan segala sesuatunya, termasuk pendidikan.

Selain itu, untuk menyokong enam pilar Budaya Tangguh Bencana Jabar, Pemda Provinsi Jabar akan memiliki Command Center untuk ketahanan, di mana terdapat sistem peringatan dini, membaca potensi perubahan iklim menjadi potensi bencana, hingga indeks ketangguhan masing-masing daerah di Jabar.

“Jadi harapannya, dalam beberapa tahun ke depan, 27 kabupaten/kota se-Jabar paham mana area dari enam poin itu yang kuat atau lemah sehingga punya indeks tentang penanganan bencana yang tepat,” tutupnya. (Tor)***

Baca juga: Diterjang Banjir Bandang, Dua belas Rumah Hanyut di Sukabumi