Kaleidoskop 2020: Ilmiah, Landasan Pemda Provinsi Jabar Menangani Pandemi COVID-19

Kaleidoskop 2020: Ilmiah, Landasan Pemda Provinsi Jabar Menangani Pandemi COVID-19

Gubernur Jabar Ridwan Kamil saat menjadi narasumber dalam acara Konvensi Nasional Humas Pemerintah 2020: Humas Pemerintah Membangun Kepercayaan Publik via konferensi video dari Gedung Pakuan, Kota Bandung, Jumat, 4 Desember 2020. (Foto: Yogi P/Humas Jabar)

PANDEMI global COVID-19 yang terjadi di dunia ikut berdampak bagi Indonesia. Hingga 30 Desember 2020, total terdapat 727 ribu kasus di Indonesia dengan 21.703 meninggal dunia. Puluhan ribu keluarga kehilangan sosok ayah, istri, anak, orang tua, rekan, atau sahabat terkait penyebaran virus SARS-CoV-2 penyebab COVID-19 ini.

Selain dampak kesehatan, pandemi COVID-19 di Tanah Air turut menghantam perekonomian Indonesia. Di Provinsi Jawa Barat (Jabar) dengan penduduk hampir 50 juta jiwa –terbanyak di Indonesia, hampir dua per tiga warganya atau sekitar 38 juta jiwa membutuhkan bantuan di awal masa pandemi.

“Bahwa COVID-19 ini adalah perang yang meluluhlantakkan semua dimensi pembangunan, tidak hanya kesehatan, ekonomi, sosial, dan lain sebagainya,” ucap Gubernur Jabar Ridwan Kamil kepada wartawan pada Jumat, 8 Mei 2020.

Saat ini, meski perekonomian perlahan pulih dan membaik, ekonomi Jabar di triwulan III-2020 masih mencatat kontraksi sebesar minus 4,08 persen (year-on-year) dibanding triwulan III-2019.

Untuk itu, sejak awal penanganan COVID-19 di Jabar, perlu langkah cepat, cermat, tegas, dan proaktif dari Pemerintah Daerah (Pemda) Provinsi Jabar. Terpenting, semua keputusan yang diambil tersebut berdasarkan pendekatan ilmiah berbasis data dan ilmu pengetahuan.

“Kami menggunakan scientific leadership, membuat keputusan berdasarkan masukan para ahli, contohnya berapa banyak warga yang harus kami tes,” ujar Kang Emil –sapaan Ridwan Kamil—saat melakukan pertemuan online dengan United Nations Development Programme (Badan Program Pembangunan PBB) atau UNDP Indonesia pada 27 April 2020.

Kajian ilmiah, juga menjadi dasar Pemda Provinsi Jabar dalam menghitung angka ideal tes dengan metode PCR hingga vaksinasi di Jabar.

Berbagai laporan Satuan Tugas (Satgas) Penanganan COVID-19 Jabar dalam memetakan pola penyebaran COVID-19 pun selalu mengacu kepada epidemiologi pandemi agar Pemda Provinsi Jabar bisa merumuskan kebijakan yang tepat dalam memberantas COVID-19.

Dalam setiap rapat koordinasi mingguan oleh Ketua Komite Kebijakan Penanganan COVID-19 dan Pemulihan Ekonomi Daerah Provinsi Jabar, paparan yang disampaikan antara lain terkait perkembangan kasus COVID-19 terkini (termasuk tingkat kesembuhan, tingkat kematian, angka Reproduksi Efektif, Zona Risiko/Level Kewaspadaan), evaluasi PSBB Proporsional dan AKB, penanganan kesehatan (antara lain pengujian sampel, keterisian rumah sakit rujukan, pusat isolasi, dan pemakaman), hingga pemulihan ekonomi termasuk di antaranya penyaluran bansos dan proyeksi ekonomi Jabar.

Dalam semua kegiatannya itu, Pemda Provinsi Jabar juga mengusung konsep Pentahelix ABCGM (akademisi, pebisnis/swasta, komunitas/masyarakat, pemerintah, dan media) bekerja sama dengan lembaga kepakaran InJabar, Ombudsman, hingga BPKP.

Dalam edukasi masyarakat terkait AKB dan protokol kesehatan, Pemda Provinsi Jabar juga menerapkan teori komunikasi publik agar pesan yang disampaikan bisa diterima dengan baik oleh warga Jabar.

Informasi terkait penanganan COVID-19 dengan konten menarik pun intens disebarkan melalui banyak media. Mulai dari media sosial sampai media massa.

“Sehingga responsive government melalui media digital ini sangat menjadi sebuah ukuran keberhasilan kita dalam menyebarkan informasi kepada masyarakat,” kata Kang Emil saat menjadi narasumber dalam acara Konvensi Nasional Humas Pemerintah 2020: Humas Pemerintah Membangun Kepercayaan Publik via konferensi video di Gedung Pakuan, Kota Bandung, Jumat, 4 Desember 2020.

“Kami sangat interaktif berkomunikasi selama pandemi. Bisa dilihat dari rilis yang kami buat berkisar ratusan, infografis yang disebarluaskan juga ratusan. Kemudian, konten video pun ratusan dan media luar ruang, serta live streaming juga kami maksimalkan,” tambahnya.

Dengan mengambil kebijakan berdasarkan ilmu secara komprehensif, Kang Emil pun berharap agar Provinsi Jabar mampu melawan pandemi global COVID-19 secara terukur, ilmiah, cepat, dan tepat sehingga arahan pemerintah pusat untuk pemerintah daerah agar menekan penyebaran COVID-19 dan mendongkrak perekonomian bisa dengan optimal dilakukan Pemda Provinsi Jabar. (Don)***

Baca Juga : Sekda Sebut Tahun 2021 sebagai Momentum Pemulihan Ekonomi Kreatif Jabar

Sosialisasi Penjaminan Mutu Direktorat Pendidikan Tinggi Kegamaan Islam Kementerian Agama RI

Sosialisasi Penjaminan Mutu Direktorat Pendidikan Tinggi Kegamaan Islam Kementerian Agama RI

Bandung – Rektor UIN Sunan Gunung Djati Bandung diwakili Wakil Rektor Bidang Akademik, Prof. Dr. H. Rosihon Anwar, M.Ag., membuka acara Sosialisasi Penjaminan Mutu Direktorat Pendidikan Tinggi Kegamaan Islam Kementerian Agama RI di Hotel Puri Khatulistiwa, Senin (28/12/2020).

Direktur Jenderal Pendidikan Islam, Prof. Dr. H. M. Ali Ramdhani, S.TP., MT, tampil sebagai keynote speaker pada acara tersebut. Sementara itu, Ketua Lembaga Penjaminan Mutu (LPM) UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Dr. Ija Suntana, M.Ag, dan Sekretaris Satuan Penaminan Mutu Universitas Pendidikan Indonesia, Dr. Ratnaningsing Eko Sardjono, M.Si., tampil sebagai narasumber.

Dalam sambutannya, Wakil Rektor Bidang Akademik, Prof.Dr. Rosihon Anwar, menjelaskan bahwa kegiatan sosialisasi ini adalah dalam rangka meningkatkan penjaminan mutu, khususnya di lingkungan Perguruan Tinggi Kegamaan Islam Swasta.

“Kita ketahui secara bersama Dirjen Pendis berkomitmen tinggi untuk meningkatkan kualitas pendidikan dan mutu perguruan tinggi. Untuk itu, kegiatan ini menjadi penting dan harus direspon dengan baik oleh kampus, terutama Lembaga Penjaminan Mutu dalam rangka ikhtiar peningkatan kualitas, bukan hanya kuantitas,” tegasnya.

“Jika sebelumnya kita masuk pada era perluasan akses, sekarang kita masuk pada era peningkatan mutu. Perguruan tinggi Islam harus sudah menyiapkan perangkat untuk peningkatan kualitas, bukan sekadar kuantitas,” paparnya.

Dirjen Pendis, Prof. Dr. M. Ali Ramdhani, menyampaikan, sejalan dengan arah kebijakan nasional untuk meningkatkan akses, mutu, relevansi dan daya saing pendidikan tinggi, khususnya Perguruan Tinggi Kegamaan Islam, strategi Pendidikan Tinggi Islam diprioritaskan pada peningkatan akses pendidikan tinggi, kualitas layanan, peningkatan mutu pendidik dan tenaga kependidikan, peningkatan kualitas hasil penelitian/riset, dan peningkatan hasil inovasi pada Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam.

Prof. Dhani,menegaskan terselenggaranya kegiatan Sosialisasi ini harus dimaknai sebagai komitmen bersama antara Kementerian Agama, UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Kopertais Wilayah II Jawa Barat untuk mewujudkan perguruan tinggi Islam yang unggul, terbaik dan bermartabat.

“Ini menjadi ikhtiar bersama Pendis, UIN Bandung, dan Kopertais untuk menghadirkan insan-Insan terbaik, unggul, bermartabat, memiliki kekhasan seperti Guru Madrasah, Ma’had Ali, Surau, sehingga dapat melahirkan pendidikan Islam yang bermutu, berstandar yang disepakati secara bersama, dan SDM unggul untuk kemajuan bangsa, negara tercinta,” jelasnya.

Ketua LPM UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Dr. Ija Suntana, M.Ag menyampaikan tentang pentingnya penerapan Sistem Penjaminan Mutu Internal (SPMI).

“Sistem Penjaminan Mutu Eksternal (SPME) sangat bergantung pada proses penjaminan mutu internal. Sistem Penjaminan Internal (SPMI) yang dilakukan secara konsisten, serius, dan berkesinambungan merupakan prasyarat kelancaran Sistem Penjaminan Mutu Eksternal di perguruan tinggi manapun,” tandasnya.

Sementara itu, Sekretaris Satuan Penjaminan Mutu UPI, Dr. Ratnaningsih Eko Sardjono menyatakan bahwa unit penjaminan mutu di perguruan tinggi harus menyiapkan blue print untuk pencapaian prodi yang unggul. Unit penjaminan mutu harus mengadakan penyamaan persepsi mengenai komitmen mutu dan melakukan langkah-langkah praktis pencapaiannya.

“Perangkat teknologi merupakan alat bantu yang sangat mendukung pada proses penjaminan mutu. Ketersediaan data proses akademik yang mudah diakses dalam suatu aplikasi harus diusahakan oleh setiap pengelola pergurun tingg,” ujar ketua LPM UIN Bandung, Ija Suntana.

Acara Sosialisasi Penjaminan Mutu ini dihadiri para Wakil Rektor, Kepala Biro, Dekan, Ketua Lembaga, Rektor, dan ketua-ketua Perguruan Tinggi Islam Swasta yang berada di bawah lingkungan Kopertais Wilayah II Jawa Barat. (Tor)***

Baca Juga : Susun Modul Moderasi Beragama, UIN Sunan Gunung Djati Bandung Gelar Workshop

Masuki 2021, Kendaraan Dinas Gubernur dan Wagub Jabar Beralih ke Mobil Listrik

Masuki 2021, Kendaraan Dinas Gubernur dan Wagub Jabar Beralih ke Mobil Listrik

 Wakil Gubernur Jabar Uu Ruzhanul Ulum. (Foto: Humas Jabar)

Bandung-  Memasuki 2021, Wakil Gubernur (Wagub) Jawa Barat (Jabar) Uu Ruzhanul Ulum mengatakan bahwa di pekan pertama Januari ini kendaraan operasional kedinasan yang digunakan Gubernur dan Wagub Jabar beralih menggunakan mobil listrik.

Kang Uu pun sudah menggunakan mobil listrik per hari ini (2/1/21) dengan pengisian baterai dalam waktu 30 menit dengan daya tempuh kendaraan hingga ratusan kilometer.

Ia menjelaskan, selain ramah lingkungan, mobil listrik juga dapat menghemat pengeluaran APBD Provinsi Jabar terkait belanja BBM (Bahan Bakar Minyak).

“Seperti yang kita tahu, BBM adalah energi yang tidak dapat diperbarui. Artinya, penggunaan mobil listrik ini bisa mengurangi konsumsi BBM,” ucap Kang Uu saat dihubungi dari Kota Bandung, Sabtu (2/1).

Adapun sebelumnya, Gubernur Jabar Ridwan Kamil dan Presiden  Direktur PT Hyundai Motors Indonesia Sung Jong Ha secara resmi telah melakukan serah terima tiga mobil listrik di Gedung Pakuan, Kota Bandung, Selasa, 29 Desember 2020.

Dengan adanya serah terima ini, Jabar menjadi provinsi pertama di Indonesia yang memiliki kendaraan operasional kedinasan berupa mobil listrik.

Mobil listrik jenis IONIQ Electric dan KONA Electric digunakan untuk Gubernur, Wagub, dan operasional polisi patwal gubernur.

Kang Uu menambahkan, menggunakan mobil listrik juga menambah kenyamanan berkendara karena tidak bising atau tidak ada suara. Selain itu, mobil listrik asal Negeri Ginseng Korea ini memiliki harga terjangkau, sekitar Rp600 juta per unit serta ramah lingkungan.

Adapun dilansir situs web resmi Hyundai, IONIQ Electric mempunyai kapasitas sebesar 38,3 kWh dan KONA Electric sebesar 39,2 kWh.

Menggunakan baterai sebagai sumber energi utama, mobil listrik murni terbebas dari emisi. Berdasarkan perhitungan biaya penggunaan listrik (R2-R3), IONIQ Electric dan KONA Electric masing-masing memiliki efisiensi listrik 0,138 kWh/km dan 0,150 kWh/km serta mampu menempuh jarak 373 km dan 345 km.

Dengan berbagai keunggulan itu, Pemerintah Daerah Provinsi Jabar secara bertahap akan mengalihkan seluruh kendaraan-kendaraan dinas menjadi mobil listrik.

Untuk itu, Kang Uu pun berharap agar bupati/walikota mulai menganggarkan untuk menghadirkan mobil listrik di lingkungan pemerintahannya. Ia pun mengajak masyarakat turut beralih ke mobil listrik karena lebih ramah lingkungan.

“Jadi dimulai dari sekarang, apalagi mobil listrik sudah tersedia di dealer-dealer. Motor listrik, mobil listrik, dan sepeda listrik sekarang sudah tersedia,” kata Kang Uu. (Tor)***

Baca Juga : Provinsi Jabar Jalin Kerja Sama dengan Chungcheongnam-do Korea Selatan

 

Cerita Elis Siti Sondari dan Wida Ramdania Bisa Menjadi Lulusan Terbaik UIN Bandung pada Wisuda Ke 80

Cerita Elis Siti Sondari dan Wida Ramdania Bisa Menjadi Lulusan Terbaik UIN Bandung pada Wisuda Ke 80

Bandung – Rektor UIN Bandung, Mahmud, menetapkan wisudawan peraih pujian kelulusan dengan IPK tertinggi sebanyak 40 lulusan. Dua lulusan tertinggi, Elis Siti Sondari, S.Pd, Program Studi Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD) Fakultas Tarbiyah dan Keguruan (FTK) dengan IPK 3,95; Wida Ramdania, S.Pd., ME, Program Studi S2 Ekonomi Syariah (Eksy) dengan IPK 3,95.

Bersama orangtuanya, Elis dan Wida dipanggil kedepan panggung untuk mendapatkan penghargaan dari Rektor, Prof. DR. H. Mamud, M.Si sebagai mahasiswa insiratif yang berkah mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan kuliah S2 dan S3 di Pascasarjana UIN Sunan Gunung Djati Bandung.

Meskipun berada dalam keterbatasan ekonomi, tetapi perempuan ini tidak menurunkan semangat untuk meraih prestasi. Bagi Rektor segala prestasi dan keberhasilan yang diraih Elis dan Wida, tidak bisa dilepaskan dari kesederhanaan, kecerdasan intelektual, spiritual, kesabaran, ikhtiar, usaha, doa orang tua dan tawakal kepada Allah SWT.

Rektor berpesan “Melalui kesempatan ini saya meminta kepada Warek III dan Wadek III kedepan untuk mencoba menelusuri kondisi mahasiswa-mahasiswi kita, kalau ada kondisi ekonomi seperti yang kita saksikan tadi. Nampaknya Warek III, Wadek III patut menyampaikan kepada Rektor untuk kita pertimbangkan terkait dengan biaya SPPnya. Saya melihat orang tuanya penghasilannya seperti demikian, dikumpulkan untuk membayar SPP. Padahal kita punya kebijakan UKT yang disesuaikan dengan keadaan ekonomi keluarganya. Karenanya saya titip kepada Warek III dan Wadek III untuk menelisik, menelusuri kondisi mahasiswa-mahasiswi kita agar jangan sampai yang ekonominya lemah terbebani biaya akibat ketidaktahuan kita,” ujar Rektor.

Untuk kedepannya, peraih IPK tertinggi, tahfidz Al-Quran 30 juz diharapkan dapat melanjutkan ke jenjang S2 dan S3 dengan mendapatkan beasiswa. “Kita akan membiasakan setiap ada mahasiswa yang tertinggi IPK-nya baik S1 maupun S2 di setiap wisuda, maka kita akan berikan bebas SPP, kalau melanjutkan studi ke Program S2 maupun ke S3, tutur Rektor.

Selain itu, calon mahasiswa yang berasal dari keluarga yatim piatu untuk tahun 2021 bisa kuliah di lingkungan UIN Sunan Gunung Djati Bandung dengan mendapatkan beasiswa. “Saya sudah memimpin pertemuan dengan teman-teman, termasuk rapat, ingin berkomitmen mulai tahun ajaran yang akan datang mahasiswa-mahasiswi kita yang masuk ke kampus dalam kondisi yatim piatu, maka UIN Sunan Gunung Djati Bandung harus membebaskan UKT-nya. Ini saya mohon betul-betul dicatat, kita ingin anak-anak yatim piatu memiliki peluang studi di kampus yang kita cintai ini. Karena kita berharap mutiara-mutiara terpendam yang ada di sekitar kita harus muncul untuk menjadi pionir-pionir negeri yang kita cintai ini,” papar Prof Mahmud.

Rektor menegaskan komitmen bersama untuk meningkatkan marwah kampus. “Bukan cuma yatim piatu yang kita beri beasiswa, penghafal Al-Quran 30 juz yang selesai S1 lanjut untuk S2, maka kita pun beri beasiswa untuk studi lanjutan di S2 atau S3. Ini komitmen-komitmen kita yang harus kita jaga,” tandasnya.

Saat ditanya perasaan ketika mendapatkan penghargaan dari Rektor, Elis mengungkapkan
“Alhamdulillah atas izin Allah, segala yang diberikan merupakan rizki dari Allah secara hakikat, syariatnya melewati Bapak Rektor Prof. Dr. H. Mahmud, M.Si dengan segenap civitas akademika UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Alhamdulillah terima kasih atas penghargaan yang telah diberikan Insyaallah apa yang telah dijadikan kesempatan pada kali ini tidak akan dibuang sia-sia. Insya Allah akan senantiasa dipersiapkan memberikan yang terbaik, dengan proses yang sungguh-sungguh serius, fokus untuk senantiasa memberikan perencanaan yang luar biasa untuk menjalani proses dari penghargaan beasiswa kuliah S2,” ujar perempuan asal Solokan Jeruk ini.

Atas capaian ini, Elis mengucapkan terima kasih yang tak terhingga pastinya kepada Allah SWT, kepada orang tua yang senantiasa mendoakan, kepada saudara yang senantiasa men-support, sahabat, kawan, kerabat. “Alhamdulillah semua ini terjadi atas doa-doa orang yang sholeh, sholehah. Dengan harapan Insya Allah akan senantiasa diikhtiarkan, tidak hanya doa, karena segala hal harus diiringi dengan doa dan usaha. Doa bagaikan senjata, maka dari itu saya begitu bangga, bersyukur Alhamdulillah atas apa yang telah diberikan oleh civitas akademika UIN Sunan Gunung Djati Bandung pada kesempatan ini. Masya Allah luar biasa, sangat senang. Alhamdulillah, Insya Allah akan dibuktikan rasa syukur ini dengan proses yang serius terhadap apa yang telah diberikan,” pungkasnya. (Tor)***

Baca Juga : Wisuda ke-80 UIN Sunan Gunung Djati Bandung Digelar Virtual

Wagub Jabar Imbau Masyarakat Mau Divaksin Demi Putus Rantai COVID-19

Wagub Jabar Imbau Masyarakat Mau Divaksin Demi Putus Rantai COVID-19

Wakil Gubernur Jabar Uu Ruzhanul Ulum. (Foto: Humas Jabar)

Bandung  Gubernur Jawa Barat (Jabar) Ridwan Kamil bersama jajaran Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Jabar termasuk ke dalam daftar relawan uji klinis fase 3 vaksin COVID-19 oleh Bio Farma di Kota Bandung.

Sebagai relawan, gubernur dan jajaran Forkopimda Jabar melakukan enam kali kunjungan, di antaranya penyuntikan pertama dan kedua di kunjungan kedua atau Visit 1 (V1) serta ketiga (V2) pada Agustus hingga September 2020.

Untuk itu, rencananya Wakil Gubernur (Wagub) Jabar Uu Ruzhanul Ulum-lah yang akan menjadi orang pertama dari lingkungan Pemerintah Daerah (Pemda) Provinsi Jabar yang akan divaksin di Jabar. Menyikapi hal tersebut, Kang Uu menegaskan bahwa dirinya sudah siap.

“Sejak awal sesuai arahan Pak Gubernur, saya harus menjadi orang yang pertama di Jawa Barat untuk melaksanakan penyuntikan vaksin COVID-19,” ucap Kang Uu saat dihubungi dari Kota Bandung, Sabtu (2/1/2021).

“Oleh karena itu, saya menyatakan siap divaksin dan tinggal tunggu waktunya kapan sesuai arahan Satuan Tugas COVID-19 Jawa Barat,” tambah sosok yang juga Panglima Santri Jabar ini.

Kang Uu pun mengimbau masyarakat Jabar untuk mau divaksin. Tujuannya, tidak lain adalah demi memutus mata rantai penyebaran virus SARS-CoV-2 penyebab COVID-19.

“Harapan kami pada seluruh masyarakat untuk tidak was-was lagi dalam melaksanakan vaksinasi ini. Karena ini merupakan salah satu upaya pemerintah dalam memutus mata rantai COVID-19 di Jabar maupun nasional,” kata Kang Uu.

“Kalau masih merasa keberatan (divaksin), ujung-ujungnya tidak melaksanakan, nanti kembalikan lagi masyarakat yang akan rugi,” tegasnya. Dalam Rilis Humas Jabar.

Pasalnya, menurut Kang Uu, pandemi yang berkelanjutan akan terus menahan aktivitas masyarakat sehingga ekonomi menurun.

“Maka salah satu solusi dari pemerintah selain PHBS (Pola Hidup Bersih dan Sehat) dan protokol kesehatan 3M (Memakai masker, Menjaga jarak, dan Mencuci tangan), ya, itu adalah vaksinasi ini,” ujar Kang Uu.

Ia pun mengatakan, Pemda Provinsi Jabar akan menunggu arahan dan siap bersinergi dengan pemerintah pusat terkait rencana pemberian vaksin bagi masyarakat.

Untuk diketahui, Menteri Kesehatan Republik Indonesia Budi Gunadi Sadikin telah menetapkan tujuh jenis vaksin COVID-19 yang akan digunakan di Indonesia, yakni vaksin produksi Bio Farma, AstraZeneca, Sinopharm, Moderna, Novavax Inc, Pfizer Inc and BioNTech, serta Sinovac.

Meski begitu, pelaksanaan vaksinansi hanya bisa digelar setelah izin edar atau persetujuan penggunaan pada masa darurat (UEA) dari BPOM keluar.

Sambil menanti proses itu, Kang Uu pun menegaskan bahwa Pemda Provinsi Jabar terus meningkatkan kesiapan SDM (Sumber Daya Manusia) baik tenaga kesehatan maupun penyuntik vaksin, puskesmas, rumah sakit, hingga storage vaksin (kulkas/alat pendingin). (Rom)***

Baca Juga : Pemda Provinsi Jabar Dukung Swab Test di Kawasan Industri MM2100

Wisuda ke-80 UIN Sunan Gunung Djati Bandung Digelar Virtual

Wisuda ke-80 UIN Sunan Gunung Djati Bandung Digelar Virtual

Bandung – Kendati dalam suasana pandemi Covid-19, Rektor UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Prof. Dr. H. Mahmud, M.Si, melantik 767 lulusan pada Wisuda ke-80 secara virtual melalui telekonferensi aplikasi zoom meeting dan disiarkan langsung pada kanal youtube, Sabtu (19/12/2020).

Ke-767 wisudawan itu berasal dari Fakultas Ushuluddin 47 orang; Fakultas Tarbiyah dan Keguruan 155 orang; Fakultas Syariah dan Hukum 113 orang; Fakultas Dakwah dan Komunikasi 103 orang; Fakultas Adab dan Humaniora 75 orang; Fakultas Psikologi 15 orang; Fakultas Sains dan Teknologi 97 orang; Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik 115 orang; S2 38 orang dan S3 9 orang.

Acara sidang senat terbuka dalam rangka wisuda ke-80 lulusan Program Sarjan, Magister dan Doktor UIN Sunan Gunung Djati Bandung dibuka secara resmi oleh Ketua Senat Universitas, Prof. Dr. H. Nanat Fatah Natsir, MS.

Dalam sambutannya Prof. Nanat  menyampaikan ucapan selamat dan sukses kepada seluruh wisudawan, wisudawati Program Sarjana (S1), Magister (S2) dan Doktor (S3).

Setelah lulus dari UIN Sunan Gunung Djati Bandung, tugas berikutnya adalah  mengamalkan ilmu, sebagai cendikiawan muslim yang Ulul Albab, memadukan antara dzikir dan fikir, mampu berfikir mendalam, substansial, dan peduli dengan problem yang dihadapi masyarakat.

Sebagai alumni UIN SGD Bandung, harus mencontoh Rasulullah Saw.,  beliau selain sebagai seorang Nabi dan Rasul, juga sebagai entrepreneur (pengusaha) yang sukses, bahkan sejarah mencatat, Nabi Muhammad yang usianya 63 tahun, hanya 23 tahun menjadi Nabi dan Rasul, sementara 28 tahun sebelumnya beliau merupakan seorang pengusaha. Dengan demikian, lebih lama menjadi pengusaha dari pada menjadi Nabi dan Rasul.

“Oleh karena itu, kreativitas dan inovasi sangat dibutuhkan oleh Saudara semua sebagai sarjana muslim, terutama di Era Revolusi Industri 4.0 ini, maka berbuatlah apa yang bisa dilakukan dan bermanfaat bagi umat, bangsa dan Negara.” ujarnya

Rektor, Prof. Dr. H. Mahmud, M.Si menuturkan dalam menghadapi situasi seperti ini, lulusan UIN Sunan Gunung djati harus tampil memberikan solusi dan bermanfaat di tengah-tengah kehidupan bermasyarakat.

“Saya ingin lulusan kita disamping profesional dibidangnya masing-masing. Juga jadi tokoh moderasi beragama di lingkungannya, tokoh bangsa yang cinta terhadap negerinya sendiri, tokoh yang senantiasa menjaga Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945, Bhineka Tunggal Ika dan NKRI, karena cinta tanah air adalah bagian dari ajaran agama kita,” kata Mahmud.

“Oleh karena itu saya berpesan jadilah saudara sarjana yang memiliki kemampuan yang memadai, profesional di bidangnya, tetapi juga saudara jadi tokoh yang moderat di lingkungannya dan sekaligus juga saudara adalah menjaga NKRI negeri yang kita cintai ini,” pesan Rektor. (Tor)***

Baca Juga : Menuju Kampus Unggul dan Kompetitif, UIN Bandung Gelar Workshop Pengembangan Kurikulum Kampus Merdeka

Sekda Sebut Tahun 2021 sebagai Momentum Pemulihan Ekonomi Kreatif Jabar

Sekda Sebut Tahun 2021 sebagai Momentum Pemulihan Ekonomi Kreatif Jabar

EKONOMI kreatif (ekraf) menjadi salah satu mesin pemulihan ekonomi Jawa Barat (Jabar). Geliat sektor ini bakal berkontribusi besar terhadap perekonomian Jabar yang sempat terpuruk karena pandemi COVID-19. Apalagi, Jabar merupakan provinsi terdepan dalam pengembangan ekraf.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) pada 2016, kontribusi Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) ekraf Jabar mencapai Rp191,3 triliun atau 20,73 persen dari total Produk Domestik Bruto (PDB) ekraf nasional.

Kontribusi ekspor ekraf Jabar mencapai 6,38 juta USD atau 31,93 persen dari total ekspor ekraf nasional. Jumlah usaha ekraf yang bergerak di Jabar mencapai 1,5 juta unit dengan menyerap tenaga kerja sekitar 3,8 juta.

Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Jabar Setiawan Wangsaatmaja menyatakan, untuk bertahan dan tumbuh di tengah pandemi COVID-19, pelaku usaha kreatif dituntut beradaptasi. Adaptasi mesti dimulai dari kajian dan pendataan yang komprehensif.

“Inovasi dalam strategi dan kebijakan akan menjadi efektif bila didasari oleh kajian dan pendataan ekonomi kreatif yang baik. Masa pandemi ini memperlihatkan betapa lemahnya kita dalam hal data,” kata Setiawan.

Setiawan pun berharap Komite Ekonomi Kreatif dan Inovasi (KREASI) Jabar, yang dibentuk di tengah pandemi COVID-19, dapat melahirkan inovasi sebagai solusi permasalahan ekraf di Jabar.

“KREASI Jabar harus dapat menghadirkan solusi bagi permasalahan ekonomi yang timbul di masa pandemi ini lewat kolaborasi dengan Disparbud (Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jabar) dan OPD (Organisasi Perangkat Daerah) lain yang terkait dengan ekraf,” ucapnya.

Kepala Disparbud Jabar Dedi Taufik mengatakan, pihaknya sudah melakukan kajian dan pendataan ekraf dengan cukup komprehensif. Salah satunya mencatat pelaku usaha kreatif yang terdampak pandemi COVID-19.

“Kami telah mencatat terdapat 14.991 pelaku ekonomi kreatif di Jawa Barat yang terkena dampak dari pandemi COVID-19. Para pelaku ini menjadi sasaran dari Disparbud Jabar dalam menjalankan program-program ekonomi kreatif seperti Ekraf Film Festival, Gelar Produk Ekonomi Kreatif (GEKRAF), dan Virtual Talkshow,” kata Dedi.

Guna memperkuat data ekraf, menurut Dedi, Disparbud Jabar menyusun buku Infografis Ekonomi Kreatif Jawa Barat, Katalog Produk Ekonomi Kreatif Jawa Barat, dan mendukung pembuatan buku Peluang dan Rekomendasi Pengembangan Ekonomi Kreatif (PROSPEK) Jawa Barat oleh KREASI Jabar. Buku tersebut disusun berdasarkan hasil kajian dan pendataan yang dilakukan Disparbud Jabar.

Setiap buku memiliki fokus konten yang berbeda-beda. Buku Infografis Ekonomi Kreatif berfokus pada potensi subsektor unggulan ekonomi kreatif setiap kota dan kabupaten di Jabar, terutama dari aspek jumlah pelaku usaha dan kontribusi ekonomi.

Sedangkan, Buku Katalog Produk Ekonomi Kreatif berfokus pada karya atau usaha kreatif unggulan setiap kota dan kabupaten di Jabar. Sementara itu, Buku PROSPEK berfokus pada rekomendasi pengembangan ekraf Jabar kedepannya dan jaringan orang kreatif di Jabar dalam bentuk Dinding Bakat (Talent Wall).

Selain kajian dan pendataan, sepanjang 2020, Disparbud Jabar telah berkolaborasi dalam berbagai program dengan KREASI Jabar, di antaranya program pengembangan kapasitas (GEKRAF, Virtual Talkshow), pengembangan jaringan ekosistem ekonomi kreatif Jawa Barat (KREATIFORUM), peningkatan akses pembiayaan (UDUNAN) dan persiapan aktivasi Creative Center.

KREASI Jabar sendiri memiliki beberapa program mandiri terutama terkait pengembangan kapasitas seperti Waktu Kunjung Pakar (Wakunjar) dan Kelas Kreasi.

Publikasi ketiga buku hasil kajian ekraf diharapkan dapat menjadi masukan dan penguatan untuk semua program yang sudah berjalan dengan baik di tahun 2020 dan melahirkan program-program baru yang inovatif dan tepat sasaran di tahun 2021. Tujuannya agar dapat memberikan dampak yang lebih luas dalam pemulihan ekonomi.

Terdapat sejumlah program yang akan didorong pada 2021, antara lain: Aktivasi Creative Center di Bogor dan Cirebon sebagai wadah aktivitas kreatif, pengembangan jaringan dan pasar, dan pengembangan kapasitas, dan program adaptasi dan digitalisasi usaha kreatif agar dapat tetap bertumbuh (ICALAN atau Inovasi Cara Penjualan). (Day)***

Baca Juga : Ini Dia Pesan Ridwan Kamil Tentang Tahun 2021

Susun Modul Moderasi Beragama, UIN Sunan Gunung Djati Bandung Gelar Workshop

Susun Modul Moderasi Beragama, UIN Sunan Gunung Djati Bandung Gelar Workshop

Bandung – Upaya mencetak lulusan UIN Sunan Gunung Djati Bandung yang unggul dan kompetitif dengan memiliki sikap moderasi beragama, wawasan kebangsaan, Wahyu memandu ilmu, maka digelar Workshop Penyusunan Modul Moderasi Beragama di Hotel Puri Khatulistiwa, Jatinangor Sumedang dari tanggal 16-18 Desember 2020.

Prof. Dr. H. Afif Muhammad, M.A tampil menjadi narasumber acara workshop yang diselenggarakan oleh pengelola Rumah Moderasi Beragama (RMB) UIN Sunan Gunung Djati Bandung yang dibuka langsung oleh Rektor, Prof. Dr. H. Mahmud, M.Si.

Dalam sambutannya, Prof Mahmud sangat menyambut gembira dan mengapresiasi kegiatan workshop penyusunan modul RMB ini.

“Dengan adanya lima modul Pedagogik, Integritas Diri, WMI, Moderasi Beragama dan Wawasan Kebangsaan sebagai produk dari kegiatan ini diharapkan dapat memberikan bermanfaat baik untuk kepentingan internal maupun eksternal. Untuk tim penyusun modul RMB agar benar-benar dapat menuntaskan modul ini dengan baik, sehingga bisa digunakan sebagai rujukan dalam rangka mewujudkan kehidupan berbangsa, bernegara yang damai, toleran, rukun, toleran dan adil,” tegasnya, Rabu (16/12/2020)

Rektor menjelaskan dalam enam bulan terakhir ini banyak PTKIN yang memintanya untuk menyampaikan materi Best Practice Pengelolaan RMB UIN SGD Bandung. “Permintaan ini sangat beralasan, karena UIN Sunan Gunung Djati Bandung merupakan PTKIN yang pertama kali memiliki Rumah Moderasi Beragama yang diresmikan oleh Menteri Agama RI pada tanggal 26 November 2019,” jelasnya.

Dalam konteks kurikulum, Rektor melalui Wakil Rektor I untuk segera dipikirkan apakah moderasi beragama menjadi satu mata kuliah mandiri yang disajikan kepada seluruh mahasiswa baru (MKDU). “Juga dalam bentuk insersi method yang menyisipkan muatan moderasi beragama pada beberapa mata kuliah baik di jenjang S1, S2 maupun S3,” paparnya.

Dengan adanya lima modul ini, ke depan, RMB UIN Sunan Gunung Djati Bandung dapat merealisasikan berbagai program kerjasama dengan pihak eksternal mulai dari Kementerian Agama Kanwil Jawa Barat, Dinas Pendidikan Jawa Barat sampai Pemerintah Daerah Kabupaten, Kota.

“Oleh karenanya, keberadaan rumah moderasi beragama ini dapat menjadi tempat candradimuka para mubalig, penyuluh dan guru-guru yang moderat, toleran dalam mengajarkan Islam yang rahmatan lil alamin,” tegasnya.

Direktur Rumah Moderasi Beragama (RMB), Prof. Dr. H. Uus Ruswandi, M.Pd menyampaikan tujuan digelar workshop ini adalah tersusunya modul Pedagogik, Integritas Diri, Wahyu Memandu Ilmu, Moderasi Beragama dan Wawasan Kebangsaan.

“Modul ini diharapkan dapat memberikan penguatan pada aspek kependidikan, kepribadian diri, integrasi ilmu, moderasi beragama serta wawasan kebangsaan dosen, memberikan penguatan moderasi beragama dan wawasan kebangsaan bagi pimpinan fakultas, prodi dan lembaga-lembaga kemahasiswaan, memberikan penguatan moderasi beragama dan wawasan kebangsaan bagi lembaga-lembaga ekternal,” tandasnya, Kamis (17/12/2020).

Tim penyusun modul RMB berjumlah 20 orang yang berasal dari Fakultas Tarbiyah dan Keguruan, Ushuluddin, Ilmu Sosial Politik, Syariah, serta Unit Konsorsium Keilmuan UIN SGD Bandung.

Kegiatan workshop Penyusunan Modul Moderasi Beragama ini dihadiri Wakil Rektor I, Prof. Dr. H. Rosihon Anwar, M.Ag., Wakil Rektor III, Prof. Dr. H. Ah. Fathonih, M.Ag., Kepala Biro Administrasi Umum, Perencanaan, dan Keuangan (AUPK), Drs. H. Akhmad Lutfi, MM, Kepala Bagian Keuangan, Dr. H. Aep Syaefudin Firdaus, M.Pd, Sekretaris Pengelola RMB, Dr. H. Wawan Hernawan, M.Ag, serta tim penyusun modul RMB. (Tor)***

Baca Juga : Menyongsong 2045, UIN Bandung Siap Terbitkan Mahasiswa Hebat

Ini Dia Pesan Ridwan Kamil Tentang Tahun 2021

Ini Dia Pesan Ridwan Kamil Tentang Tahun 2021

Gubernur Jawa Barat (Jabar) Ridwan Kamil saat menggelar Subuh Berjamaah Keliling atau Subling dengan tetap menerapkan protokol kesehatan 3M di Masjid Agung Kabupaten Garut, Minggu (3/1/2021). (Foto: Pipin/Humas Jabar)

Kabupaten Garut – Gubernur Jawa Barat (Jabar) Ridwan Kamil kembali menggelar Subuh Berjamaah Keliling atau Subling dengan tetap menerapkan protokol kesehatan di Masjid Agung Kabupaten Garut, Minggu (3/1/2021). Subling kali ini menjadi yang pertama pada 2021.

Kang Emil –sapaan Ridwan Kamil– mengatakan, setelah beberapa bulan terhenti karena pandemi COVID-19, program Subling akan kembali digelar meski tidak rutin setiap minggu. Lokasi Subling pun akan ditentukan berdasarkan level kewaspadaan COVID-19.

Kang Emil mengaku rindu akan suasana Subling dan silahturahmi dengan masyarakat.

“Ada rasa kerinduan pada subuh berjamaah ini karena sempat terkendala pandemi. Sehingga bisa hadir kembali ke tempat yang mulia ini seperti nikmatnya berbuka puasa,” kata Kang Emil dalam rilis Humas Jabar

Dalam pidatonya, Kang Emil menyampaikan bahwa vaksinasi COVID-19 akan segera dilaksanakan, dan tenaga kesehatan menjadi prioritas vaksinasi. Oleh karena itu, ia meminta Pemerintah Kabupaten Garut menyimulasikan proses vaksinasi di puskesmas maupun gedung-gedung.

“Vaksinasi akan dimulai pertama kepada para tenaga kesehatan, kedua profesi nontenaga kesehatan tapi yang bersinggungan dengan COVID-19, yaitu TNI/Polri, petugas pelayanan umum, setelah itu baru sesuai urutan risiko,” ucapnya.

Kang Emil tetap mengimbau kepada masyarakat Jabar untuk disiplin menerapkan protokol kesehatan 3M, yakni memakai masker, menjaga jarak, dan mencuci tangan dengan sabun. Sebab, vaksinasi COVID-19 dilakukan secara bertahap.

“Artinya tahun 2021 COVID-19 masih belum hilang tapi kemungkinan akan turun. Artinya juga setahun ini kita masih harus bermasker, menjaga jarak dan rajin cuci tangan jangan lengah,” katanya.

Selain itu, kedatangan Kang Emil ke Kabupaten Garut juga untuk mengabarkan masyarakat bahwa revitalisasi Alun-alun Garut akan dimulai tahun ini. Pemerintah Daerah (Pemda) Provinsi Jabar sudah menyiapkan anggaran sebesar Rp15 miliar.

“Saya ke sini ingin memberitakan bahwa tahun ini Alun-alun Garut akan direnovasi, Rp15 miliar sudah disiapkan, termasuk perbaikan Masjid Agung. Karena uang rakyat harus kembali ke rakyat kami hanya mengatur lalu lintas keuangan sebaik-baiknya,” ucapnya.

“Jalan Lingkar Cipanas Rp37 miliar akan kita mulai konstruksi di tahun ini,” imbuhnya.

Menurut Kang Emil, revitalisasi Situ Bagendit sudah mulai dikerjakan dengan target penyelesaian akhir tahun 2021.

“Pembangunan sudah bergerak untuk membuat Situ Bagendit menjadi destinasi wisata terbaik, target revitalisasinya selesai akhir tahun 2021 ini,” katanya.

Kang Emil pun melaporkan bahwa proyek Tol Cigatas (Cileunyi-Garut-Tasik) saat ini sedang dalam proses pembebasan lahan. Untuk pembangunan tahap satunya, ia mengaku sudah meminta kepada Kementerian PUPR agar mendahulukan akses ke Garut dan Tasikmalaya.

“Saya laporkan juga proyek Tol Cigatas saat ini sedang proses pembebasan lahan. Tahap satu sudah saya mintakan ke pusat agar didahulukan akses ke Garut dan Tasik,” ujarnya.

Kang Emil berharap proyek Tol Cigatas yang menurut rencana akan ditembuskan hingga Cilacap dapat meningkatkan perekonomian masyarakat, khususnya pelaku UMKM Garut.

“Mudah-mudahan kalau lancar pembebasannya dan konstruksinya selesai di masa jabatan Pak Bupati (Garut), dengan begitu perekonomian rakyat bisa meningkat dan akses Bandung-Garut pun bisa ditempuh dalam waktu 45 menit maka yang jual dodol, jaket kulit, dorokdok bisa lebih cepat,” harapnya.

Selain itu, kata Kang Emil, Pemda Provinsi Jabar tak hanya fokus pada pembangunan fisik, tetapi juga fokus pada pembangunan batin atau spiritualitas. Hal itu sesuai dengan visi Jabar Juara Lahir Batin.

“Jabar harus maju tidak saja hanya urusan lahiriah tapi juga batiniah,” ucap Kang Emil. (Tor)***

Baca Juga : Provinsi Jabar Jalin Kerja Sama dengan Chungcheongnam-do Korea Selatan

90 Paper Mahasiswa UIN Bandung Berhasil Dipresentasikan pada Konferensi Internasional

90 Paper Mahasiswa UIN Bandung Berhasil Dipresentasikan pada Konferensi Internasional

Bandung – Pemerintah sedang terus mendorong publikasi ilmiah para akademisi, baik dosen maupun mahasiswa. Bahkan, kebijakan akreditasi Nasional menetapkan poin tinggi bagi publikasi ilmiah kemitraan dosen dan mahasiswa.

Mahasiswa ditetapkan sebagai pusat pembelajaran dalam sistem akreditasi Nasional. Dosen berperan memfasilitasi pengembangan kapasitas mahasiswa dalam skill penulisan akademik.

Baru-baru ini seorang dosen berhasil membawa 90 paper mahasiswa ke kegiatan konferensi internasional dengan modal keyakinan. “Saya bermodal keyakinan menyiapkan rencana pembelajaran dengan target capaian publikasi ilmiah paper mahasiswa. Semula saya membaca harapan penilaian akreditasi berupa pencapaian mata kuliah,” tutur Wahyudin Darmalasana, Dosen Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati Bandung, dalam rilis resmi kampus.

Kata dia, mahasiswa mula-mula dilatih penggunaan aplikasi references. Aplikasi ini bisa dikatakan syarat mutlak artikel ilmiah untuk sasaran publikasi di jurnal ilmiah. Saya kaget juga ternyata mahasiswa sangat adaptif dalam belatih penerapan aplikasi references meskipun masih di semester pertama. Praktis, keyakinan saya untuk berhasil makin memuncak.

Lalu, saya kenalkan panduan penulisan artikel, lebih tepatnya template. Ini tujuannya agar mahasiswa mengetahui struktur penulisan artikel bermula dari pendahuluan sampai kesimpulan. Kemudian mulailah latihan menulis dengan cara setoran paragraf. Setoran paragraf ini menjadi penting untuk memastikan peningkatan kualitas tulisan.

Reviu paragraf pertama dilakukan dengan sangat ketat. Hal ini bermaksud agar mahasiswa tidak mengulangi kesalahan-kesalahan yang sama dalam teknis penulisan di paragraf kedua dan paragraf seterusnya. Ternyata kualitas tulisan terus meningkat melalui umpan balik ini.

Artikel sudah rampung padahal belum tuntas satu semester. Pada gilirannya 90 artikel berhasil lolos di sebuah konferensi internasional pada penghujung Tahun 2020. Sebanyak 70 papre dari semester satu, 15 paper dari semester tiga, dan 5 (lima) paper dari semester lima. “Memang gak percaya tetapi semuanya dilakukan dengan tahapan yang terukur,” ujarnya di Fakultas Ushuluddin, Rabu, 16 Desember 2020.

Dia berharap ada agenda Conference Series tiap tahun bagi publikasi ilmiah kemitraan dosen dan mahasiswa. “Saya berharap tiap tahun ada konferensi sehingga dosen dan mahasiswa bisa menyiapkan makalah sebagai keluaran mata kuliah. Ini besar poinya untuk penilaian akreditasi dan pemerintah terus mendorong publikasi ilmiah akademisi,” lanjut Dosen Metodologi Ilmu Hadis ini