Jago Kelola Aplikasi Digital Pemerintah, Pemda Provinsi Jabar Raih Penghargaan dari BSSN

Jago Kelola Aplikasi Digital Pemerintah, Pemda Provinsi Jabar Raih Penghargaan dari BSSN

Piagam Penghargaan untuk Pemda Jawa Barat. (Foto : Humas Jabar) 

Depok – Pemerintah Daerah (Pemda) Provinsi Jawa Barat (Jabar) kembali menorehkan prestasi. Kali ini, Pemda Provinsi Jabar terpilih sebagai Pemda Terbaik Kategori Tingkat Profil Identifikasi Kerentanan dan Penilaian Risiko Sektor Pemerintah Periode 2018-2020.

Penghargaan tersebut diberikan oleh Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) dalam Focus Group Discussion (FGD) Sektor Pemerintah di Auditorium BSSN, Kota Depok, Selasa (10/11/20).

Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Provinsi Jabar Setiaji menyatakan, penghargaan tersebut membuktikan bahwa Pemda Provinsi berhasil melakukan pencegahan atau meminimalisir risiko kerentanan terhadap aplikasi yang dikelola.

“Kami dinilai berhasil dan menjadi yang terbaik dalam meminimalisir risiko tercurinya data atau informasi dari aplikasi-aplikasi yang dikembangkan. Celah-celah aplikasi diretas dapat kami tambal,” ucap Setiaji dalam keterangan tertulis Humas Jabar.

Setiaji memaparkan, terdapat empat indikator yang menjadi penilaian. Pertama, perhitungan Penilaian profil risiko yang diperoleh dari hasil kegiatan IT Security Assessment atau aktivitas pengamanan agar aplikasi tidak mudah diretas.

“Kemudian, jumlah sistem yang dikerjakan selama IT Security Assessment. Indikator ketiga, penilaian responsif diperoleh dari kemudahan dan frekuensi koordinasi stakeholder kepada BSSN, serta dihitung dari respons hasil kegiatan IT Security Assessment,” katanya.

“Indikator keempat adalah inovatif. Ada penilaian inovatif berdasarkan dari publikasi dan penyampaian informasi keamanan siber dan kegiatan IT Security Assessment,” imbuhnya.

Setelah mendapatkan penghargaan, kata Setiaji, pihaknya akan intens meminimalisir risiko kerentanan terhadap aplikasi yang dikelola dengan proses edukasi dan penguatan kapasitas Sumber Daya Manusia (SDM).

“Edukasi akan kami perkuat, khususnya kepada Organisasi Perangkat Daerah (OPD). Tujuannya agar pengembangan aplikasi bisa mengutamakan keamanan informasi. Kami juga akan buat standardisasi pengembangan aplikasi,” katanya.

“Kemudian kami akan meningkatkan SDM yang ada di Jabar. Bukan hanya Pemda Provinsi Jabar, tapi juga pemerintah kabupaten/kota supaya rutin melakukan Security Assessment. Kami pun selalu berkoordinasi dengan BSSN,” tambahnya. (Tor)***

Baca Juga : Terpilih dalam Anugerah Pemerintah Daerah Inovatif 2020, Jabar Raih Penghargaan

Buah Kreativitas dan Inisiatif Warga, Kampung Wisata Baros Panjalu Diresmikan, Ada Apa Saja Disana ?

Buah Kreativitas dan Inisiatif Warga, Kampung Wisata Baros Panjalu Diresmikan, Ada Apa Saja Disana ?

Warga beraktifitas di Kampung Berwarna, Dusun Baros. (Foto : Puy/Indo-satu.com)

Ciamis – Setelah berlangsung sekitar 2 bulan lamanya warga di Dusun Baros Desa Ciomas Kecamatan Panjalu berhasil membuat kawasan wisata baru di Kabupaten Ciamis.

Demikian disampaikan kepala desa Ciomas Yoyo Wahyono saat peresmian kawasan tersebut, Rabu (11/11/2020).

Dalam sambutannya, Yoyo menjelaskan di Dusun Baros terdapat tiga buah kreativitas inisiatif warga yakni Kampung Berwarna , Galeri kerajinan dari barang bekas, Rumah Runtah, serta objek wisata alam Bukit Baros Indah.

“Allhamdulillah setelah sekitar dua bulan warga disini bergotong-royong, akhirnya bisa diresmikan dan tempat ini terdapat tiga unsur kreatif, yakni  Kampung Berwarna, galeri pemanfaatan limbah Rumah Runtah, serta objek wisata Bukit Baros ini merupakan semangat positif dari warga Baros semoga bisa terus menginspirasi,” kata Yoyo.

Bukit Baros Indah (Foto : Puy/Indo-satu.com)

Dengan hadirnya kawasan ini di Kecamatan Panjalu, objek wisata semakin lengkap. Selain wisata alam Situ Lengkong, Bukit Baros juga menambah kawasan wisata di Kecamatan Panjalu terutama bagi pengunjung yang ingin menikmati suasana asri dan alami.

“Potensi ini perlu didukung berbagai pihak hadirnya Kampung Berwarna kemudian juga Rumah Runtah itu mengubah sebuah barang yang tadinya sudah kehilangan fungsi bisa bernilai jual tinggi ini perlu didukung dengan pemasaran yang baik sehingga bisa menciptakan kesejahteraan masyarakat,” ungkap Yoyo.

Bupati Ciamis, Herdiat Sunarya (ke empat kiri) serta jajaran foto bersama pengelola Rumah Runtah (Foto : Humas Kabupaten Ciamis)

Dalam peresmian tersebut dihadiri pula oleh Bupati, Wakil Bupati Kepala Dinas Pariwisata Ketua Badan Promosi Pariwisata Daerah (BPPD), pihak Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Ciamis serta unsur lainnya. (Tor)***

Baca Juga : Untuk Pertama Kalinya di Kabupaten Ciamis, Menikmati Indahnya Situ Lengkong Sambil Naik Perahu Kayak 

Muhammad Irfan Fauzi, Mahasiswa UIN Bandung Juarai Lomba Baca Puisi Tingkat Mahasiswa Se Nusantara

Muhammad Irfan Fauzi, Mahasiswa UIN Bandung Juarai Lomba Baca Puisi Tingkat Mahasiswa Se Nusantara

 

Bandung– Muhammad Irfan Fauzi, mahasiswa Jurusan Komunikasi Penyiaran Islam (KPI) Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) UIN Sunan Gunung Djati Bandung angkatan 2017  berhasil meraih Juara 1 Lomba Membaca Puisi Tingkat Mahasiswa se-Nusantara dalam rangka Pekan Budaya FAH 2020. Kompetisi tersebut diselenggarakan oleh Dewan Mahasiswa Fakultas Adab dan Humaniora UIN Syarif Hidayatullah Jakarta pada  05-24 Oktober 2020.

 

Melalui akun resmi Pekan Budaya FAH 2020 @pekanbudayaofficial mengumumkan pemenang lomba ini, Kamis (05/11/2020) dengan urutan: Pertama, M. Irfan Fauzi asal kampus UIN Sunan Gunung Djati Bandung dengan judul Mati atau Lestari dan perolehan nilai 643. Kedua, Syifa Susilawati  dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dengan puisi yang berjudul Rempak Nadi, perolehan nilai 640, serta yang  Ketiga, Dandy Firmansyah Rifli asal kampus UIN Sultan Thaha Saifuddin Jambi dengan judulBudaya Tanpa Konservasi dengan perolehan nilai 636.

Atas pencapaian prestasi mahasiswa yang membanggakan dan mengharukan nama kampus tersebutlah, Wakil Rektor III, AH. Fathonih, menyampaikan apresiasi dan penghargaan buat Irfan Fauzi mahasiswa KPI UIN Bandung yang telah menjuarai lomba puisi se-Nusantara di tengah pandemi Covid-19.

“Dan tentu ini mengharumkan nama UIN Bandung di kancah nasional. Mudah-mudahan ini menjadi motivasi dan inspirasi mahasiswa lain untuk meraih prestasi di event-event lain. Dan bidang kemahasiswaan sedang merancang agar mahasiswa yang menorehkan prestasi di luar kampus untuk diberikan reward,” tegasnya, Ahad (08/11/2020).

Sementara itu, Wakil Dekan III Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK),  Dadan Suherdiana  yang didampingi Ketua Jurusan KPI,  Aang Ridwan dan Sekretaris Jurusan KPI, Uwes Fatoni menuturkan prestasi yang diraih Irfan Fauzi adalah buah dari kerja keras dan ketekunannya untuk on going proces dalam berkarya.

“Spirit karya dan iklim juara yang diatmosferkan di Prodi Komunikasi dan Penyiaran Islam juga ikut memantik seluruh mahasiswanya, termasuk Irfan untuk terus berprestasi,” tuturnya.

Dadan melanjutkan, pandemi Covid-19 tidak menyurutkan kita untuk tetap berkarya dan berinovasi serta berprestasi. Semoga prestasi ini menjadi inspirasi dan pemicu semangat bagi mahasiswa yang lain. “Juara yang di raih Irfan bukan satu-satunya. Ia sudah banyak meraih prestasi dalam bidang yang lainnya. Selamat untuk prestasi yang membanggakan,” paparnya.

Dalam puisinya bertajuk Mati atau Lestari Irfan menegaskan, masalah di hadapan semakin suram. Sesuatu yang abstrak dengan mudah mengoyak nasionalisme. Buah pikir beralih memuja hal yang baru. Yang dipunya tak lagi dianggap ada.”Saatnya anak-anak ibu Pertiwi membuka mata dan meneguhkan hati. Budaya harus tetap lestari, jangan sampai mati,” pungkasnya. (Tor)***

Baca juga: UIN Sunan Gunung Djati Bandung Gelar Workshop Tata Kelola Jurnal Program Studi Doktor Pendidikan Islam

Markas Pejuang Covid-19 : Dari Juliana, Ranca Badak Hingga Hasan Sadikin

Markas Pejuang Covid-19 : Dari Juliana, Ranca Badak Hingga Hasan Sadikin

Rumah Sakit Hasan Sadikin (Foto: Humas Pemkot Bandung)

Bandung – Sejak Covid-19 mewabah, salah satu tempat di Kota Bandung yang sering disebut yaitu Rumah Sakit Umum Pemerintah Dr. Hasan Sadikin (RSHS). Hal itu karena RSHS merupakan salah satu pusat rujukan Covid-19 di Jawa Barat.

RSHS menjadi salah satu rumah sakit garda terdepan memerangi Covid-19

Keberadaan RSHS memang tak bisa dilepaskan dengan Kota Bandung. Situs resmi RSHS menyebut, rumah sakit ini dibangun sejak masa penjajahan Belanda, tepatnya tahun 1920 dan diresmikan 15 Oktober 1923 dengan nama “Het Algemene Bandoengsche Ziekenhuis” (Rumah sakit Umum Bandung).

Empat tahun kemudian, nama ini diubah menjadi “Het Gemeente Ziekenhuijs Juliana” (Rumah Sakit Kota Juliana).

Kapasitas Het Gemeente Ziekenhuijs Juliana di awal berdirinya hanya 300 tempat tidur dan diperkuat enam dokter berkebangsaan Belanda. Satu di antaranya, ahli bedah yang tidak bekerja penuh dan dua dokter berkebangsaan Indonesia, yaitu dr. Tjokro Hadidjojo dan dr. Djundjunan Setiakusumah.

Hingga akhirnya perang Pasifik yang pecah pada 1942 mengubah Het Gemeente Ziekenhuijs Juliana menjadi rumah sakit militer Belanda. Namun tentata Jepang berhasil mengusir Belanda dari Indonesia dan menduduki Pulau Jawa.

Het Gemeente Ziekenhuijs Juliana tetap sebagai rumah sakit militer, namun namanya berubah menjadi “Rigukun Byoin”.

Ketika Indonesia merdeka lewat Proklamasi 17 Agustus 1945, RSHS kembali dikuasai oleh Belanda. Fungsinya masih tetap sebagai rumah sakit militer. Baru pada 1948, fungsi rumah sakit berubah menjadi fasilitas kesehatan untuk umum.

Direktur pertama RSHS adalah orang Belanda, yakni W. J. van Thiel. Ia menjabat sebagai direktur sejak sebelum Jepang menduduki Priangan. Thiel masih memimpin rumah sakit sampai 1949. Selanjutnya, rumah sakit dipimpin Dr Paryono Suriodipuro sampai 1953.

Tidak jelas kapan tepatnya perubahan nama Het Gemeente Ziekenhuijs Juliana atau Rigukun Byoin menjadi Rumah Sakit Ranca Badak. Yang jelas, sebutan itu datang dari masyarakat sendiri.

Sejumlah sumber menyebutkan, setelah Indonesia merdeka, RSHS dikelola oleh pemerintah daerah. Masyarakat menyebut rumah sakit ini dengan nama “Rumah Sakit Rantja Badak“.

Pada 1954, rumah sakit Rumah Sakit Ranca Badak ditetapkan menjadi rumah sakit provinsi dan diawasi langsung Departemen Kesehatan.

Dikutip dari Humas Pemkot Badnung, soal nama Ranca Badak, ia diambil dari nama kampung yang menjadi tempat berdirinya rumah sakit, yakni kampung Ranca Badak. Ranca merupakan istilah bahasa Sunda yang berarti rawa. Di Jawa Barat, ada banyak tempat yang namanya memakai istilah ranca.

Pada 1956 Rumah Sakit Ranca Badak dijadikan rumah sakit umum dengan kapasitas 600 tempat tidur. Di saat yang sama, pemerintah mendirikan Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran (FK Unpad).

Rumah Sakit Ranca Badak lalu berfungsi sebagai tempat pendidikan oleh FK Unpad. Hal ini menjadi awal kerja sama antara Rumah Sakit Ranca Badak dan FK Unpad. Perubahan nama rumah sakit kembali terjadi ketika rumah sakit ini dipimpin Dr. Hasan Sadikin yang juga Dekan FK UNPAD.

Selagi menjabat sebagai direktur dan dekan, Hasan Sadikin meninggal dunia (16 Juli 1967). Maka untuk menghormati pengabdian dr. Hasan Sadikin, Rumah Sakit Ranca Badak pun berubah namanya menjadi Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Hasan Sadikin atau RSHS.

Bagi kaum milenial, nama Ranca Badak mungkin terdengar asing. Namun bagi warga Kota Bandung zaman baheula menyebut RSHS dengan sebutan Ranca Badak. (Tor)***

Baca Juga : Untuk Pertama Kalinya, Kota Bandung Akan Gelar Drive in Cinema

Kelurahan Campaka dan Yayasan Buddha Tzu Chi Bedah 4 Rumah Warga

Kelurahan Campaka dan Yayasan Buddha Tzu Chi Bedah 4 Rumah Warga

Suasana renovasi rutilahu di Kecamatan Andir (Foto : Dok. Humas Pemkot Bandung) 

Bandung – Kelurahan Campaka Kecamatan Andir Kota Bandung berkolaborasi dengan Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia Kantor Perwakilan Kota Bandung membangun 4 unit rumah tidak layak huni (Rutilahu) di RW 07 dan 06.

Masing-masing rumah memperoleh bantuan sekitar Rp40-45 juta.
Dana tersebut untuk membuat rumah menjadi sehat. Salah satunya dengan membuatkan septic tank di setiap rumah. Pembangunan ditargetkan tuntas dalam waktu sebulan.

“Persyaratan rumah sehat harus ada septic tank. Ada yang minta tidak perlu dibangun septic tank. tetapi kita tetap akan membuatkannya. Karena kita mengajarkan masyarakat untuk hidup sehat,” jelas Koordinator lapangan Yayasan, Mardius saat ditemui Humas Kota Bandung di RT 04 RW 07 Jalan Terusan Margasari, Kota Bandung, Jumat 28 Agustus 2020.

Mardius mengungkapkan, sebetulnya target pembangunan program bedah rutilahu tahun ini yaitu sebanyak 200 Unit.

“Karena keterbatasan akibat pandemi, jadi kita batasi dulu, target kita 200 unit di tahun ini,” katanya.

Sementara itu, Eri (44) salah satu penerima manfaat program bedah rumah ini sangat berterima kasih atas bantuan dari Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia tersebut.

“Saya ucapkan terima kasih kepada seluruh aparatur kewilayahan serta yayasan. Saat musim hujan rumah saya rubuh. Semuanya bocor. Sedangkan untuk memperbaikinya, kami tak mampu,” akunya.

Kegembiraan yang sama pun disampaikan Lurah Campaka, Asep Aceng. Ia mengapresiasi atas kolaborasi melalui program bina lingkungan Yayasan Buddha Tzu Chi ini.

“Atas nama Pemerintah Kota Bandung, Kelurahan Campaka mengucapkan terima kasih kepada Yayasan Buddha Tzu Chi atas kolaborasi terhadap bedah rumah ini. Semoga kita bisa selalu berkolaborasi membantu warga yang membutuhkan,” tuturnya. (Tor)***

Baca Juga : Sebanyak 2.084 Drumpori Tersebar di Kota Bandung

 

Kisah Pemulang Eti, Pekerja Migran Asal Majalengka Setelah 18 Tahun Dipenjara dan Hampir Dihukum Mati di Arab Saudi

Kisah Pemulang Eti, Pekerja Migran Asal Majalengka Setelah 18 Tahun Dipenjara dan Hampir Dihukum Mati di Arab Saudi

Bandung – Setelah sempat dikarantina selama 14 hari di Wisma Atlet Kemayoran Jakarta, Eti binti Toyyib Anwar akhirnya pulang ke rumah bertemu keluarga di Desa Cidadap, Kecamatan Cingambul, Kabupaten Majalengka, Kamis (30/7/20) malam WIB.

Eti diantar petugas Kementerian Luar Negeri dan Kementerian Tenaga Kerja RI disaksikan Pemerintah Provinsi Jawa Barat diwakili Dinas Tenaga Kerja dan Transmigasi dan PB NU.

Proses kepulangan Eti berlangsung haru. Betapa tidak, Eti dipenjara selama 18 tahun menanti hukuman qisas setelah hakim memutuskan bersalah atas pembunuhan majikannya Faisal bin Said Abdullah Al Ghamdi.

“Proses kepulangan dilakukan dengan protokol kesehatan COVID-19,” ujar Kepala Dinas Transmigrasi dan Tenaga Kerja Provinsi Jawa Barat Rachmat Taufik Garsadi, Sabtu (1/8/20).

Eti divonis bersalah bersama seorang warga negara India, Abu Bakar Kutil. Namun Eti bebas dari hukuman pancung karena pihak keluarga memaafkan setelah syarat diyat 4 juta real atau Rp15,2 miliar berhasil dipenuhi.

Dana tersebut berasal dari pengumpulan dana rakyat Indonesia yang peduli dikoordinasi KBRI Arab Saudi (Kemenlu) – PB NU (NU Care- LAZISNU). “Pemerintah Provinsi Jawa Barat juga menginisiasi pengumpulan dana dari para ASN dan berhasil mengumpulkan dana Rp1,8 miliar,” kata Rachmat.

Pada momen pertemuan dengan keluarga, keluarga Eti dan Kementerian Luar Negeri RI menyampaikan terima kasih dan penghargaan setinggi-tingginya kepada Gubernur Jawa Barat yang telah melakukan berbagai upaya termasuk memberikan kontribusi hingga Eti terbebas dari hukuman mati.

Kasus Eti ini memberi pelajaran berharga bagi semua stakeholders terutama perihal kesejahteraan pekerja migran. Menghindari kejadian serupa terulang, Pemda Provinsi Jawa Barat bersama DPRD saat ini sedang merumuskan raperda tentang Penyelenggaraan Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (PMI) asal Daerah Provinsi Jawa Barat.

Perlindungan dimulai dari sejak sebelum bekerja atau pra kerja meliputi: sosialisasi kepada calon pekerja migran di desa-desa, pendampingan orientasi pra penempatan (OPP), dan peningkatan kompetensi.

Perlindungan selama bekerja meliputi monitoring penempatan pekerja migram melalui P3MI (Perusahaan Penempatan Pekerja Migran Indonesia), serta menindaklanjuti pengaduan atau permasalahan di luar negeri bersama-sama dengan kementerian dan lembaga terkait.

Sementara pelindungan setelah bekerja meliputi, pemberdayaan purna PMI dengan memberikan pelatihan kewirausahaan dan pengembangan usaha. Hal ini dimaksudkan agar purna PMI bisa hidup mandiri.

“Prosesnya sedang berlangsung dan mudah-mudahan bisa cepat selesai,” ungkap Rachmat dalam keterangan tertulis Pemrov Jabar.

Jabar Migran Service Center

Menguatkan perda perlindungan pekerja migran, Pemda Provinsi Jawa Barat akan membangun Jabar Migran Service Center (JMSC) yang berfokus membangun sistem navigasi migrasi.

“Kita juga sedang bikin yang namanya JSMC, Jabar Migran Service Center,” sebut Rachmat.

Sistem ini terbentuk dari seluruh rangkaian sistem pendataan calon tenaga kerja, sistem perekrutan yang melibatkan peran dinas tenaga kerja provinsi dan kabupaten/kota hingga desa. JMSC juga membangun sistem pelatihan dan sertifikasi, sistem penempatan, serta sistem pelacakan warga Jabar yang bekerja di luar negeri.

Pembangunan sistem navigasi migrasi ini akan melibatkan seluruh ekosistem migrasi, dari mulai pemerintah daerah, pusat, perusahaan swasta pelatihan dan penempatan, lembaga-lembaga keuangan, dan sebagainya. Hal ini sejalan dengan peran dan tugas pemerintah daerah yang disebutkan dalam UU 18 tahun 2017 tentang Perlindungan Pekerja Migran.

Perda dan JSMC ini akan terus digulirkan secara konsisten agar tidak ada lagi pekerja migran ilegal dan memastikan pekerja yang diberangkatkan sudah sesuai dengan kompetensi.

“Target besarnya adalah keamanan dan kesejahteraan pekerja migran terjamin dan dilindungi hukum,” pungkas Rachmat. (Sol)***

Baca Juga : 40 Karyawan Gedung Sate Positif COVID-19, Jabar Fasilitasi Isolasi Mandiri

 

100 Tahun Sudah Gedung Sate Berdiri, Berikut Sejarahnya

100 Tahun Sudah Gedung Sate Berdiri, Berikut Sejarahnya

Gedung Sate. (Foto: Humas Jabar)

Bandung – Gedung Sate genap berusia 100 tahun pada Senin (27/7/20). Meski sudah seabad berdiri, kemegahan dan kekokohan Gedung Sate terekam jelas pada setiap sudut arsitektur. Nilai historisnya pun terabadikan, dan tak akan tergerus oleh zaman

Gubernur Jawa Barat (Jabar) Ridwan Kamil menilai Gedung Sate memiliki nilai arsitektur yang tinggi. Tak ada gedung pemerintahan yang bisa mengalahkan arsitektur maupun estetika Gedung Sate. Selain itu, Gedung Sate merupakan salah satu simbol perjuangan

Di balik kemegahan, Gedung Sate menyimpan sebuah kisah perjuangan Angkatan Moeda Pekerdjaan Oemoem, yang mempertahankan Gedung Sate dan Kemerdekaan Indonesia dari serangan tentara Gurkha dan NICA.

Histori tersebut akan terus hidup di tengah masyarakat. “Ingat Jabar. Ingat Gedung Sate. Ingat Bandung, ikonnya pasti Gedung Sate. Tak ada yang bisa mengalahkan,” kata Ridwan Kamil.

Pembangunan Gedung Sate diawali peletakan batu pertama pada 27 Juli 1920 oleh putri Wali Kota Bandung saat itu, Johana Catherina Coops, dan perwakilan Gubernur Hindia-Belanda di Batavia, Petronella Roelofsen.

Penggalian tanah pun dilakukan untuk menanam konstruksi beton bertulang sebagai fondasi bangunan dan pembangunan ruang bawah tanah, dilanjutkan dengan pembangunan lantai pertama hingga ketiga.

Setelah pengerjaan ruang tanah selesai, pembangunan dilanjutkan dengan pengerjaan konstruksi lengkung untuk pintu dan jendela gedung, serta kolom pojok gedung bagian dalam dan luar.

Pada 1922, pembangunan menara gedung beserta penyelesaian dinding luar, perataan lahan sekitar, dan pengerjaan atap dilakukan.

Tahun berikutnya, penyelesaian bagian dalam aula lantai satu serta penyelesaian ornamen kolom di aula gedung.  Pembangunan Gedung Sate melibatkan 2.000 pekerja dan menghabiskan dana sebesar 6 juta gulden.

”Kenapa sate karena dulu ada 6 juta gulden biaya pembangunannya. Satu juta disimbolkan dengan satu sate,” kata Ridwan Kamil dalam keterangan tertulis Pemprov Jabar.

Tak ada acara khusus untuk memperingati 100 Tahun Gedung Sate karena sedang dalam pandemi COVID-19. Sejumlah rencana yang telah disusun dibatalkan.

Kendati begitu, Kang Emil menyatakan, peringatan 100 Tahun Gedung Sate tetap terlaksana dengan merawat dan menjaganya. Perbaikan fasilitas Gedung Sate di berbagai sudut menjadi bukti.  Salah satunya pemasangan pilar-pilar yang menggambarkan bahwa Gedung Sate milik warga Jabar. (Tor)***

 

Baca Juga : Peringati Hari Bhakti Adhyaksa Ke-60 , Pemprov Jabar Distribusikan Paket Sembako di Sukabumi

Gowes Bareng Gubernur, Jabar Bergerak Sosialisasi 3M dan Bagikan Masker

Gowes Bareng Gubernur, Jabar Bergerak Sosialisasi 3M dan Bagikan Masker

Pendiri Jabar Bergerak Atalia Praratya memakaikan masker kepada warga sekitar saat gowes bersama pengurus Jabar Bergerak tingkat provinsi di Kota Bandung. (Foto: Rizal/Humas Jabar)

Bandung – Gubernur Jawa Barat (Jabar) Ridwan Kamil mengikuti kegiatan bersepeda alias gowes bersama Pendiri Jabar Bergerak Atalia Praratya Ridwan Kamil dan pengurus Jabar Bergerak tingkat provinsi di Kota Bandung, Minggu (26/7/20) pagi WIB

Rute yang dilewati rombongan mulai dari Sekretariat Harian Jabar Bergerak di Hotel Grand Preanger, menyusuri Jalan Tamblong kemudian berbelok ke Jalan Lengkong Kecil, lalu Jalan Sunda, Jalan Bangka, Jalan Lombok, Jalan Bawean, Jalan Banda, Gedung Sate (Jalan Diponegoro), Gedung Dekranasda Jabar (Jalan Ir. H. Juanda/Dago), Simpang Dago, Jalan Siliwangi, Jalan Tamansari, Jalan Wastukencana, hingga Gedung Pakuan.

Di Gedung Dekranasda Jabar, rombongan melakukan sosialisasi protokol kesehatan 3M yakni memakai masker, menjaga jarak, dan mencuci tangan serta membagikan masker kepada pesepeda dan warga yang berada di sekitar lokasi.

Kang Emil pun mengatakan, agenda gowes ini menjadi salah satu caranya untuk menjaga kebugaran di sela aktivitasnya sebagai pejabat publik, terutama untuk meningkatkan imunitas di tengah pandemi COVID-19.

“Sambil berolahraga untuk menjaga kesehatan dan imunitas, kami memanfaatkan waktu untuk keliling kota Bandung sambil bersosialisasi 3M, memakai masker, mencuci tangan dan menjaga jarak,” ujar Ridwan Kamil dalam keterangan tertulis Pemprov Jabar.

Adapun menurut Atalia, berolahraga sangat penting untuk menjaga kesehatan tubuh. Meski begitu, protokol kesehatan tetap harus diperhatikan selama berolahraga di masa pandemi COVID-19.

“Saya keliling Kota Bandung dengan teman-teman bersepeda karena penting sekali untuk kita menjaga kondisi tubuh, daya tahan tubuh, di masa pandemi seperti sekarang,” tutur Atalia.
(Tor)***

 

Baca Juga : Peringati Hari Bhakti Adhyaksa Ke-60 , Pemprov Jabar Distribusikan Paket Sembako di Sukabumi

Ratusan Relawan Mitra dan Karyawan Gojek Salurkan Lebih dari 4.000 Paket Bantuan kepada Korban Banjir Jakarta

Ratusan Relawan Mitra dan Karyawan Gojek Salurkan Lebih dari 4.000 Paket Bantuan kepada Korban Banjir Jakarta

Dok Gojek Indonesia

JAKARTA – Gojek menurunkan sekitar 300 orang tim relawan yang terdiri dari mitra dan karyawan untuk bahu-membahu menyalurkan langsung paket bantuan logistik berupa makanan kering, pakaian layak pakai, perlengkapan sanitasi, dan obat-obatan kepada para korban bencana banjir. Bantuan tersebut disalurkan ke 5 wilayah terdampak yaitu: di Villa Nusa Indah, Bekasi; Kademangan dan Ciledug Indah Tangerang; Teluk Gong, Jakarta Utara; Cengkareng dan Rawa Buaya, Jakarta Barat; serta Ciracas, Jatinegara dan Rusunawa Pengadegan, Jakarta Timur. Sejak hari pertama, tim relawan telah mengevakuasi ratusan korban banjir serta menyalurkan lebih dari 4.000 paket bantuan ke 50 lokasi yang terdampak.

CEO GoPay Aldi Haryopratomo yang mewakili manajemen Gojek Group ikut bergabung dengan tim relawan hari ini, menyampaikan rasa prihatinnya, “Kami akan terus bantu baik melalui penggalangan dana, bantuan logistik, maupun bantuan tenaga seperti yang tim relawan kami lakukan selama lima hari ini. Semoga keadaan segera membaik.” ungkapnya dalam keterangan tertulis

Aldi juga mengapresiasi komitmen mitra dan karyawan Gojek yang bersatu dalam tim relawan sejak hari pertama bencana banjir Jabodetabek. “Saya sangat tersentuh menyaksikan sendiri semangat para mitra dan karyawan kami yang tergerak untuk turun langsung membantu sesama. Ini adalah yang sebenar-benarnya perwujudan semangat Gojek berbakti untuk Indonesia.”

Aksi yang melibatkan seluruh ekosistem Gojek ini menyusul inisiatif lainnya yaitu program penggalangan donasi bantuan yang mengalir ke rekening penampungan. Pengadaan dan penyaluran bantuan ini merupakan inisiatif Gojek selain membuka program pengumpulan dana bantuan bagi korban banjir di Jakarta dan sekitarnya dalam kerja sama dengan Kitabisa dan Baznas.

Per hari Minggu 5 Januari 2020, jumlah dana yang terkumpul dari konsumen Gojek melalui galangan dana Gojek-Kitabisa-Baznas telah mencapai lebih dari 263 juta. Angka ini terus meningkat dari hari sebelumnya yang masih berada di kisaran Rp 150 juta pada Sabtu siang lalu (4/1). “Hal ini menunjukkan empati yang luar biasa dari para pengguna aplikasi Gojek dan kami sangat berterima kasih atas antusiasme yang sangat tinggi dalam membantu saudara-saudara kita yang tertimpa musibah banjir,” imbuh Aldi. (RHM)

Tak Hanya Api, Ini Kisah Diskar PB Kota Bandung Tangani Hewan Hingga Cincin

Tak Hanya Api, Ini Kisah Diskar PB Kota Bandung Tangani Hewan Hingga Cincin

ilustrasi : CNN Indonesia

BANDUNG – Petugas Dinas Kebakaran dan Penanggulangan Bencana (Diskar PB) tidak hanya terjun saat terjadi insiden kebakaran saja. Di Kota Bandung, petugas Diskar PB juga manangani masalah hewan hingga cincin yang sulit dilepas.

Sepanjang tahun 2019 hingga Desember ini, Diskar PB berhasil menangani 13 kejadian orang yang masuk ke sumur. Lalu 4 kali melakukan upaya pencarian orang tenggelam. Kemudian 16 kali menangani cincin yang sulit terlepas dari jari.

“Ada sekali menangani kaki anak terjepit, 1 kasus tangan anak nancap di pagar besi. Kita juga sekali menangani orang tersengat listrik, lalu ada yang terjebak di bangunan ambruk dan juga sekali mengurus anak yang terkunci di ruangan,” ucap Dadang Iriana, Kepala Diskar PB Kota Bandung, Kamis (26/12/2019).

Dadang mengungkapkan, Diskar PB juga bukan hanya menangani masalah manusia saja. Justru dalam setahun ini 296 kali kasus yang ditangani petugas yakni mengurusi masalah hewan.

Laporan paling banyak yakni penanganan sarang tawon hingga 189 kali. Kemudian mengatasi masalah kucing sebanyak 50 kali, kasus ular berkeliaran di tengah masyarakat sebanyak 42 kasus.

“Ada laporan penanganan biyawak dua kali, sekali mengatasi masalah burung. Lalu ada juga penanganan bunglon dan kukang,” ujarnya dalam keterangan tertulis

Dadang menambahkan, petugas Diskar PB juga menerima lima laporan untuk menangani masalah musang. Jumlah yang sama juga dilakukan penananganan kera di tengah permukiman warga.

Kasus lainnya, Diskar PB juga ikut terlibat menangani 9 kali kecelakaan lalu intas, lalu 11 laporan pohon tumbang. Sebanyak 4 kali longsor juga turut di tangani petugas dan terjun di sekali banjir besar.

“Petugas kita juga menangani kabel melintang, canopy roboh, gerbang terkunci sampai penanganan drone,” ungkapnya.

Dengan banyaknya laporan masalah warga Kota Bandung yang semakin beragam ini, pada 2020 nanti Dadang akan semakin fokus meningkatkan kapasitas Sumber Daya Manusia (SDM) para petugas.

“Hal yang paling mendasar ini SDM. Kalau sarana dan prasarana bisa diakali, tapi kalau SDM ini kemampuannya yang harus kita tingkatkan. Kalau SDM sudah semakin profesional itu kita semakin mampu,” jelasnya.

Masih menurut Dadang, peningkatan kemampuan para petugas Diskar PB Kota Bandung ini bukan hanya untuk menangani laporan warga saja. Namun, guna memaksimalkan dalam memberikan edukasi kepada masyarakat.

“Penyuluhan kemudian simulasi. Karena kami tidak hanya pemadaman, ada juga penyelamatan. Ini kan macem-macem,” katanya.(RHM)