KMC Galuh Taruna Bandung dan BSC Adakan Sosialisasi Bank Sampah

 

KMC “Galuh Taruna’’ Bandung bekerjasama dengan Bank Sampah Ciamis (BSC)  mengadakan Sosialisasi Bank Sampah.  Kegiatan ini diikuti leh perwakilan masyarakat Desa Jalatrang dengan  Pemateri yang dihadirkan  Manager dari BSC, Devi Sri Mulyanti.

Seperti yang diketahui, Bank sampah Ciamis merupakan Bank sampah induk yang terletak di Kelurahan Kertasari, Kabupaten Ciamis yang melayani nasabah perorangan maupun nasabah kelompok seperti Bank Sampah Unit (BSU), Tempat Pengolahan Sampah – Reduce Reuse Recycle (TPS3R), intansi pemerintahan , swasta, perusahaan, toko ataupun kelompok masyarakat lainnya untuk menabung sampah yang telah dipilah.

Dalam materinya, Devi Sri Mulyanti mengungkapkan bahwa konsep bank sampah ini tidak jauh berbeda dengan bank pada umumnya. Namun jika di bank biasa yang ditabung adalah uang sedangkan di bank sampah yang disimpan adalah barang dalam bentuk sampah.

“Dengan total ada 84 jenis sampah yang bisa ditabung di BSC ini  yang dikelola oleh masyarakat dan pemerintah. Sampah ini nantinya akan dikonversikan menjadi uang yang dicatat dalam buku tabungan. Setelah disetorkan, sampah yang terkumpul akan diolah menjadi barang setengah jadi, kemudian akan dikirim ke industri daur ulang,” ungkapnya.

Adapun sampah yang dikumpulkan harus dipilah terlebih dahulu menjadi sampah organik, anorganik, dan residu. Sampah organik diantaranya sisa-sisa bahan dapur, sampah anorganik contohnya plastik, kaleng, dan bahan lainnya yang tidak bisa terurai, adapun sampah residu yaitu puntung rokok, sterofoam, tisu, pembalut, dan multilayer.

Berdasarkan Undang-Undang No 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah dan Surat Edaran Bupati Ciamis terkait pembentukan bank sampah di setiap wilayah, maka Bank Induk Ciamis menargetkan 27 bank sampah di setiap kecamatan dengan beberapa unit di desa dan dusunnya. Untuk merealisasikan program ini pihak BSC terus melakukan sosialisasi secara berkala kepada masyarakat. “Sosialisasi bank sampah terus berjalan sejak tahun 2017 karena masih banyak desa yang belum menjalankan amanat dari surat edaran bupati ini”, tutur Devi pada Rabu (11/8/2021).

Sementara itu,  alur untuk mendirikan bank sampah ini yang pertama menentukan kepengurusan, kedua menentukan tempat operasional sebagai gudang dengan memanfaatkan lahan milik desa, balai dusun, bangunan milik pribadi ataupun masyarakat untuk menampung sampah yang mudah luruh. Ketiga, alat operasional seperti karung, timbangan, gunting, cutter, dan lainnya. Keempat, bermitra dengan Bank Sampah Ciamis (BSC), kelima menentukan nama bank sampah dan membuat buku administrasi. Terakhir, melakukan sosialisasi dan edukasi terkait bank sampah yang dalam kegiatannya dapat dikolaborasikan dengan program kesehatan dan lingkungan hidup daerah masing-masing.

Terkait dana untuk mendirikan bank sampah dapat diajukan ke desa yang bekerja sama dengan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes). Namun BSC juga dapat memberikan pinjaman modal untuk membentuk bank sampah unit yang nantinya bisa dibayar dengan sampah.

Bank sampah  dapat memberikan manfaat yang besar bagi masyarakat dan lingkungan sekitar. Selain mengurangi limbah, uang hasil setoran sampah dapat digunakan untuk kepentingan individu ataupun kelompok. Saldo tabungan di bank sampah ini dapat digunakan untuk tabungan menunaikan umroh, membayar Pajak Bumi dan Bangunan (PBB), biaya sekolah, tabungan hari raya, sebagai alat tukar atau alat pembayaran sembako, alat-alat rumah tangga, alat elektronik dengan sistem cash ataupun kredit tanpa bunga, tagihan listrik, Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM), pulsa, pembuatan jamban sehat, sumber dana komunitas atau kelompok.

“Ada beberapa warga di daerah Rancah melakukan kredit magic com dan hand phone yang dibayar dengan sampah setiap bulannya”, tambah Devi.

Selain itu bank sampah juga melayani pembayaran BPJS ketenagakerjaan yang iurannya dibayar dengan sampah. Selain itu BSC juga menjadi salah satu donatur beras beberapa pesantren yang ada di Ciamis.

Menurut penuturan salah satu warga Desa Kalapasawit Kecamatan Lakbok Faiqotul Humaedah (20) bahwa bank sampah di daerahnya memiliki keunikan tersendiri karena pengumpulan sampah ini menjadi ajang lomba untuk setiap dusun, bagi warga yang mengumpulkan sampah yang sudah terpilah paling banyak akan mendapatkan hadiah berupa emas seberat 0, 025 gram.

“Adanya bank sampah ini bisa menghilangkan kebiasaan masyarakat membakar sampah dan mereka lebih memilih menabung sampah untuk menghasilkan uang bahkan emas”, jelas Faiqotul pada Kamis (12/8/2021).

Devi berharap mahasiswa yang mengikuti sosialisai ini juga ikut berkontribusi memberikan sosialisasi kepada masyarakat di daerahnya masing-masing untuk mulai merencanakan pendirian bank sampah. Hal ini akan memiliki dampak yang besar untuk kelangsungan hidup yang berkelanjutan di bidang kemasyarakatan khususnya lingkungan hidup dan ekonomi.

 

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp

Copyright © 2020 Indo-Satu. All rights reserved.