Bernama HABI LAW Firm, Ketua Dewan Pembina Parfis Buka Kantor Hukum di Bandung

Bernama HABI LAW Firm, Ketua Dewan Pembina Parfis Buka Kantor Hukum di Bandung

BANDUNG – Berikan layanan hukum prima, Ketua Dewan Pembina Persatuan Artis Film dan Seniman (Parfis), Shibir Rachmat Aslam Anis resmi membuka kantor hukum HABI LAW Firm di Bandung.

Shibir mengatakan bahwa dalam jasa hukum ini, pihak menggaet sesepuh Jawa Barat dan Ketum Manggala Garuda Putih, Djoni Hidayat dan Advokat muhamad Ijudin Rahmat.

“Mereka sudah malang melintang dalam pembelaan hukum di kalangan masyarakat jawa barat,” ungkapnya, Selasa (31/8/2021).

Saat ini, kantor hukum tersebut, tengah menangani salah satu kasus dan pendampingan hukum Mohammad Ridho Rhoma.

Menurutnya dengan dibukanya kantor hukum HABI Law Firm, maka dapat menjadi manfaat bagi masyarakat banyak, khususnya di Jawa Barat.

“Karena pada intinya, kami membuka kantor hukum ini guna mempermudah masyarakat dalam mencari keadilan. Maka kami terbuka bagi siapa saja masyarakat yang ingin berkonsultasi terkait hukum,” terangnya.

Ketua Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Manggala Garuda Putih, Ijudin Rahmat mengatakan bahwa bergabungnya ke kantor hukum tersebut, agar dapat membantu masyarakat terkait masalah hukum, karena masih banyak warga yang kesulitan dan bingung akan masalah hukum.

“Kami berharap dapat bermanfaat untuk orang banyak, khusunya masyarakat yang tengah mencari keadilan,” tambahnya. (Restu Nugraha Syauqi)***

Terkendala Akses Informasi, Masyarakat Pedesaan Belum Paham Aplikasi Pikobar

Terkendala Akses Informasi, Masyarakat Pedesaan Belum Paham Aplikasi Pikobar

BANDUNG — Hadirnya sejumlah fitur dalam program aplikasi Pusat Koordinasi dan Informasi Covid-19 Jawa Barat (Pikobar) yang bertujuan untuk menyajikan data, dan informasi terkait penyebaran dan pencegahan covid-19  dinilai belum sepenuhnya dapat dipahami oleh masyarakat khususnya di daerah pedesaan.

Berbeda dengan masyarakat di perkotaan, terbatasnya akses informasi dan sarana pendukung menjadi salah satu penyebab, program Pikobar tidak dapat dijangkau oleh masyarakat di pedesaan.

Oleh karena permasalahan mengenai pemerataan sosialisasi aplikasi Pikobar harus menjadi perhatian serius Pemprov Jabar.

Hal tersebut diungkapkan Anggota Komisi V DPRD Provinsi Jawa Barat Bambang Mujiarto saat dihubungi pada Sabtu (24/7/2021).

Selain itu permasalahan mengenai akurasi data pada aplikasi tersebut harus menjadi perhatian, dari jumlah angka sebaran kasus aktif, pasien sembuh, pasien meninggal, dan data lainnya.

“Pemprov harus berpikir ulang mengenai aplikasi Pikobar, evaluasi mengenai ketepatan update penyebaran angka pasien, berapa angka sebenarnya”ucap Bambang.

“Evaluasi besar harus dilakukan seperti pada angka kematian harus dievaluasi akurasinya, pasien terpapar, dan sembuh. Beberapa waktu kebelakang, angka kematian ini naik hampir tiap hari ada yang meninggal di tiap desa”imbuhnya.

Lebih lanjut pihaknya pun menyoroti terkait, kapasitas rumah sakit dalam menampung pasien baik yang terpapar covid-19 maupun pasien non-covid. Bambang menekankan, bahwa penanganan pasien jangan hanya terfokus pada penganan pasien terpapar covid-19, pasien non covid pun harus mendapatkan penanganganan.

“Kesiapan rumah sakit dalam menampung pasien baik untuk pasien covid dan non covid, penanganan pasien non covid-19 pun  jangan dibiarkan”pungkasnya. (Tor)***

 

Antisapasi Gelombang PHK, Pemprov Harus Siapkan Skema Terukur

Antisapasi Gelombang PHK, Pemprov Harus Siapkan Skema Terukur

Anggota Komisi V DPRD Provinsi Jawa Barat Bambang Mujiarto

BANDUNG — Penetapan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat Jawa – Bali yang berlangsung 2 Juli – 20 Juli 2021, dinilai telah memicu gelombang Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) di sejumlah daerah di Jawa Barat.

Menanggapi permasalahan tersebut Anggota Komisi V DPRD Provinsi Jawa Barat Bambang Mujiarto meminta Pemdaprov Jabar, segera mempersiapkan skema terukur sebagai salah satu solusi seiring gelombang PHK yang terjadi di Jawa Barat.

“Jangan terkesan latah dalam menentukan kebijakan di tengah pandemi, jangan sporadis dan tidak terukur. Dalam hal ini Pemprov harus bertindak cepat, melakukan konsolidasi tersendiri untuk merumuskan sebuah skema seperti yang terjadi pada skema pemulihan ekonomi”ucap Bambang saat dihubungi, Jumat (23/7/2021).

Selain itu menurut Bambang, untuk mengantisipasi dampak gelombang PHK yang terjadi saat ini Pemprov Jabar selain melibatkan seluruh stakeholder juga harus melibatkan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD).

Bambang menyebut, BUMD memiliki peranan penting untuk dapat memberikan akses bantuan permodalan bagi  para pelaku usaha dan masyarakat. Sehingga dampak dari PHK akibat PPKM Darurat dapat diminimalisir.

“Melibatkan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) untuk menyediakan akses permodalan bagi para pelaku usaha, sehingga dampak PHK dari perpanjangan PPKM Darurat ini dapat diminimalisir”tutupnya. (Tor)***

UIN Sunan Gunung Djati Bandung Gelar Workshop Sistem Kelola Keuangan Ormawa di Era Pandemi

UIN Sunan Gunung Djati Bandung Gelar Workshop Sistem Kelola Keuangan Ormawa di Era Pandemi

Bandung – Wakil Rektor III UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Ah. Fathonih,  membuka acara Workshop Sistem Pelaporan dan Pertanggungjawaban Keuangan Organisasi Kemahasiswaan (Ormawa) di Era Pandemi Covid-19 Bagian Kemahasiswaan dan Alumni di Shanti Hotel, Rabu (17/03/2021).

Dalam sambutannya, Wakil Rektor III menegaskan kehadiran pandemi Covid-19 ternyata membawa berkah tersendiri bagi civitas akademika UIN Sunan Gunung Djati Bandung untuk terus melakukan inovasi, perubahan kearah yang lebih baik.

“Momentum era pandemi Covid-19 ini harus dijadikan waktu yang tepat untuk terus belajar. Hari ini kita ingin belajar meningkatkan tata kelola pelaporan dan pertanggungjawaban keuangan di lingkungan Ormawa,” tegasnya.

Dia menyampaikan, SK Dirjen Nomer 4961 mengamanatkan bahwa organisasi kemahasiswaan intra universitas diarahkan bukan pada orientasi politik praktis, tetapi diarahkan pada peningkatan kualitas akademik dan non akademik.

“Karenanya ormawa harus menjadi dinamisator, fasilitator, pengembangan minat dan bakat mahasiswa, UKM UKK harus hadir di sana dan mampu memerankan dirinya dalam memenuhi kebutuhan mahasiswa,” paparnya.

Kehadiran organisasi kemahasiswaan harus memberikan manfaat bagi civitas akademika dan masyarakat.

“Setiap ormawa dituntut untuk keluar dari zona nyaman, dengan terus melakukan perubahan, perbaikan bukan hanya melakukan rapat kerja dan berakhir pada pergantian kepengurusan yang diwariskan. Dalam setiap pelantikan, rapat kerja UKM, UKK, DEMA, SEMA, saya selalu mengamanatkan kepada setiap pengurus, kehadiran Ormawa harus dirasakan oleh organisasi, lembaga, memberikan kontribusi positif bagi masyarakat, sehingga dapat membanggakan UIN Sunan Gunung Djati,” paparnya.

Upaya meningkatkan atmosfer akademik di lingkungan UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Ormawa diharapkan dapat menopang visi dan misi menuju kampus unggul dan kompetitif. (Tor)***

Atasi Persoalan Keluarga, Pusat Pembelajaran Keluarga Kota Bandung Jalin MoA dengan Fakuktas Psikologi UIN Sunan Gunung Djati

Atasi Persoalan Keluarga, Pusat Pembelajaran Keluarga Kota Bandung Jalin MoA dengan Fakuktas Psikologi UIN Sunan Gunung Djati

Bandung – Fakultas Psikologi UIN Sunan Gunung Djati Bandung melakukan Memorandum of Agreement (MoA) dengan Pusat Pembelajaran Keluarga (Puspaga) Kota Bandung di Pendopo Kota Bandung, Senin (15/03/2021).

Bersama tiga perguruan tinggi lain, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Universitas Islam Bandung (Unisba), Universitas Padjajaran (Unpad).
Langkah ini dilakukan sebagai bentuk komitmen untuk mewujudkan Bandung Unggul.

Ketua Puspaga Kota Bandung, Siti Muntamah Oded mengatakan, dalam membangun Bandung Unggul maka harus dimulai dengan membentuk keluarga harmonis, dan mampu menghadirkan fungsi keluarga agar melahirkan sumber daya yang berkualitas.

“Puspaga yang kecil ini terus membantu dalam urusan keluarga dan anak, terutama pola asuh anak yang hari ini tantangannya sangat luar biasa,” tuturnya.

Tak bisa dipungkiri, menurut Siti, pihaknya kerap kali menemukan permasalahan-permasalahan di lingkup keluarga yang tak bisa diselesaikan sendiri. Sehingga membutuhkan peran serta dari para akademisi.

“Melalui MoA antara Puspaga dan akademisi diharapkan dapat membantu dalam penanganan permasalahan keluarga, termasuk di dalamnya mengenai anak dan perempuan,” terangnya.

“MoA ini menjadi sebuah kebahagiaan dan menjadi sebuah titik sejarah awal perubahan yang masif. MoA ini akan mengurai permasalahan-permasalahan yang dihadapi,” tuturnya.

Sementara itu, Wali Kota Bandung, Oded M Danial mengatakan, dalam mewujudkan visi misi Kota Bandung maka diperlukan tiga pilar, yaitu desentralisasi, inovasi, dan kolaborasi.

“Ini yang dijadikan pegangan untuk menghadirkan perbaikan di Kota Bandung,” tuturnya.

Dekan Fakultas Psikologi,  Dr. Agus Abdul Rahman, M.Psi., Psikolog menyampaikan terima kasih atas kepercayaan pemerintah Kota Bandung yang sudah melibatkan UIN Sunan Gunung Djati dalam rangka mewujudkan Bandung Unggul. “Ini menjadi salah satu ikhtiar bersama empat kampus dalam melakukan Tri Dharma Perguruan Tinggi, sehingga upaya mewujudkan Bandung Unggul dapat dimulai dari ketahanan keluarga karena madrasah pertama berada pada Ibu dan di rumah,” tegasnya.

Mudah-mudahan dengan adanya MoA pihak kampus dapat memberikan kontribusi positif terhadap masyarakat, khususnya Kota Bandung. (Tor)***

 

Bagini Metoda Disperkim Jabar Olah Sampah Jadi Berkah dengan Gerakan ‘Nyeupah’

Bagini Metoda Disperkim Jabar Olah Sampah Jadi Berkah dengan Gerakan ‘Nyeupah’

Kepala Dinas Perumahan dan Permukiman (Disperkim) Jabar Memaparkan Gerakan Nyeupah (Nyetor Sampah Pasti Barokah) Jum’at (26/02/21). (Foto : Disperkim)

Bandung – Dinas Perumahan dan Permukiman (Disperkim) Provinsi Jawa Barat (Jabar) menginisiasi program yang mengubah sampah jadi berkah. Salah satu caranya adalah dengan menggandeng mitra pengangkutan sampah yaitu Aplikasi Greeny dan Bank Sampah Bersinar dalam Gerakan Nyeupah (Nyetor Sampah Pasti Barokah).

Nyeupah merupakan gerakan memilah dan mengumpulkan sampah rumah tangga nonorganik yang kemudian disetorkan ke Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS3R).

Saat ini gerakan Nyeupah sudah diinisiasi oleh Disperkim Jabar dengan mengajak masyarakat khususnya di tingkat RT, RW, kelurahan dan Kantor Pemerintah Daerah Provinsi Jawa Barat di Kawasan Kawaluyaan Kota Bandung untuk melakukan gerakan Nyeupah dengan menyetor sampah ke TPS3R Disperkim atau pengelola lingkungan untuk dilakukan pengumpulan, pencatatan dan penjualan sampah kepada mitra pengangkutan sampah.

Kepala Disperkim Jabar Boy Iman Nugraha dalam acara Soft Launching Nyeupah (26/02/21) di Kantor Disperkim Jabar berharap gerakan Nyeupah ini dapat mengurangi residu yang harus dibuang ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA), sehingga bisa memperpanjang usia TPA.

Boy Iman Nugraha memaparkan, “(Melalui) Nyeupah ini kita hanya ingin memulai gerakan penuntasan sampah di kawasan (Dinas) Permukiman secara mandiri. Kami ingin turut serta mencoba mengurangi sampah dari hulu untuk mengurangi residu yang harus dibuang sampai ke TPA.”

Dalam acara Soft Launching Nyeupah, dilakukan sesi simulasi pengangkutan sampah oleh mitra pengangkutan. Greeny dan Bank Sampah Bersinar akan mengangkut sampah yang sudah dipilah dalam tiga jenis yaitu, kertas, plastik dan besi dikumpulkan di TPS3R Disperkim Jabar.

Kemudian, pihak Disperkim dan mitra pengangkutan akan menentukan titik penjemputan berbasis aplikasi, menimbang sampah yang dijual, nilai rupiah dari sampah akan terunggah ke aplikasi Greeny dan Bank Sampah Bersinar dan hasil penjualan sampah dapat ditarik melalui aplikasi Doku.

Penggagas aplikasi Greeny yaitu Boy Tjakra menjelaskan ,“Harga 2500 per kilogram untuk semua jenis plastik, untuk logam Rp2.500 per kilogram.”

Selain pembayaran sampah melalui aplikasi Greeny, Disperkim juga bekerja sama dengan Alfamart dan Bank Sampah Bersinar melalui acara “Gebyar Bayar Sembako Pakai Sampah” di Alfamart empat apartemen transit yang berlokasi di Rancaekek, Solokan Jeruk, Ujung Berung dan Batu Jajar.

Kerja sama antara Disperkim Jabar dan mitra pengangkutan sampah dalam Nyeupah ini merupakan manifestasi dari gerakan peduli lingkungan, peduli sosial dan peduli ekonomi.

Kedepannya, Gerakan Nyeupah yang diinisiasi oleh Disperkim Jabar diharapkan dapat dilakukan serentak oleh seluruh masyarakat di Jawa Barat. (Tor)***

Baca Juga : Jabar Siapkan Skenario Penyuntikan supaya Vaksinasi COVID-19 Berjalan Efektif dan Efisien

Rektor UIN Bandung Berikan Beasiswa Pendidikan kepada Hafidz Quran 30 Juz dan Wisudawan ‘Tak Bertoga’

Rektor UIN Bandung Berikan Beasiswa Pendidikan kepada Hafidz Quran 30 Juz dan Wisudawan ‘Tak Bertoga’

Bandung – Rektor UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Prof. Dr. H. Mahmud, M.Si. melantik 1.000 lulusan dan memberikan penghargaan kepada Muchammad Fariz Maulana Akbar, S.Ag. Jurusan Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir Fakultas Ushuluddin (FU) yang Hafidz Quran 30 Juz dengan IPK 3,89.

Wisudawan tak bertoga, Dina Farida, S.H. Jurusan Hukum Keluarga, Fakultas Syariah dan Hukum (FSH) yang meninggal karena sakit setelah Sidang Skripsi pada Wisuda ke-81 secara virtual melalui telekonferensi aplikasi zoom dan disiarkan langsung pada kanal youtube UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Sabtu (27/02/2021).

Ke-1.000 wisudawan itu berasal dari Fakultas Ushuluddin 148 orang Fakultas Tarbiyah dan Keguruan 202 orang; Fakultas Syariah dan Hukum 89 orang; Fakultas Dakwah dan Komunikasi 99 orang.

Fakultas Adab dan Humaniora 87 orang; Fakultas Psikologi 29 orang; Fakultas Sains dan Teknologi 111 orang; Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik 81 orang; Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam 67 orang; S2 73 orang dan S3 14 orang.

Dengan menerapkan protokol kesehatan, memakai masker, menjaga jarak, dan menggunakan handsanitizer Sidang Senat Terbuka dalam rangka Wisuda ke-81 lulusan Program Sarjan, Magister, dan Doktor UIN Sunan Gunung Djati Bandung dibuka secara resmi oleh Ketua Senat Universitas, Prof. Dr. H. Nanat Fatah Natsir, MS.

Prof. Nanat berpesan setelah lulus dari UIN Sunan Gunung Djati Bandung,

“Tugas saudara berikutnya adalah mengabdi kepada Masyarakat, untuk mendapatkan Ridha Allah swt., mengamalkan ilmu yang saudara dapatkan dari bangku kuliah, dan kini saudara sudah menyandang gelar kesarjanaan, sebagai cendikiawan muslim yang Ulul Albab, memadukan antara dzikir dan fikir, mampu berfikir mendalam, substansial, dan peduli dengan problem yang dihadapi masyarakat,” Ujarnya. (Tor)***

Baca Juga : Gelar Raker, FTK UIN Bandung Angkat Pembahasan Tentang Meneguhkan Kembali Semangat Mendidik dengan Ilmu dan Hati

Gelar Raker, FTK UIN Bandung Angkat Pembahasan Tentang Meneguhkan Kembali Semangat Mendidik dengan Ilmu dan Hati

Gelar Raker, FTK UIN Bandung Angkat Pembahasan Tentang Meneguhkan Kembali Semangat Mendidik dengan Ilmu dan Hati

Bandung-Fakultas Tarbiyah dan Keguruan (FTK) UIN Sunan Gunung Djati Bandung menggelar Rapat Kerja (Raker) bertajuk “Bersama Mewujudkan Fakultas Tarbiyah dan Keguruan yang Unggul, Professional, dan Berintegritas” yang berlangsung di Shakti Hotel Jl. Soekarno Hatta Gede Bage Bandung, Rabu (24/02/2021).

Raker yang dibuka oleh Rektor UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Prof. Dr. H. Mahmud, M.Si ini diikuti dosen, tenaga kependidikan dan diisi dengan Orasi Ilmiah Virtual bersama Tatang Muttaqin, Ph.D., Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional / Bapenas Republik Indonesia yang membahas tentang “Mengelola Harapan untuk Pendidikan Lebih Baik.”

Dalam sambutannya, Rektor mengajak seluruh civitas akademika agar terus bekerja sungguh-sungguh sesuai kapasitas dan potensi masing-masing. Bekerja bukan hanya untuk dunia, tapi juga mencari tiket ke surga.

“Karena sebagian besar waktu kita dihabiskan di kantor, mari kita jadikan bekerja ini sebagai tiket masuk surga dengan melakukan kerja sama dan sama-sama bekerja untuk meningkatkan marwah kampus,” tegasnya.

Rektor menegaskan salah satu cara mewujudkan kampus yang unggul, maju, kompetitif, dan berakhlakul karimah dapat dilakukan saat bekerja dengan membudaya salam, senyuman, sapa.

Ikhtiar untuk membesarkan kampus Islam terbesar di Jawa Barat ini harus diawali dengan terus belajar dari filosofi Prabu Siliwangi. “Mari kita berjuang bersama. Banyak jalan menuju Roma, tidak ada yang tidak mungkin. Filosofi Siliwangi mulai dari silih asah, silih asih, silih asuh sampai pada silih wawangi adalah kerangka nilai hidup kita dalam proses membesarkan lembaga ini. Pimpinan mewangikan bawahan, maka secara tidak langsung pimpinan pun akan wangi dan besar”, tandasnya.

Dalam pemaparan program kerjan Dekan FTK Prof. Dr. Hj. Aan Hasanah, M.Ed., menyampaikan tentang pentingnya para dosen di lingkungan FTK untuk bisa meneguhkan kembali semangat mendidik dengan ilmu dan hati dalam mengajar kepada para mahasiswa.

Mengingat penguatan pendidikan karakter di dalam pembelajaran menjadi pondasi dan kunci penting untuk membangun peradaban bangsa. Karakter yang harus diperkuat dalam penerapan pendidikan di Indonesia yakni nilai-nilai religius, nasionalis, mandiri, gotong-royong dan integritas.

Dalam suasana pandemi Covid-19 ini, mendidik dengan hati dan sesuai dengan ilmu sangat dibutuhkan. Artinya proses pembelajaran tidak hanya sebatas transfer ilmu, tapi attitude, etika, moral yang bersumber dari kelembutan hati harus dilakukan dalam rangka memberikan keteladanan bagi anak didik,” tegasnya.

Untuk program strategis satu tahun ke depan (2021) tentang peningkatan mutu dosen dan mahasiswa, serta peningkatan pelayanan tridharma perguruan tinggi, disampaikan oleh Wakil Dekan I, Dr. H. Dindin Jamaluddin, M.Ag. Wakil Dekan II Dr. Hariman Surya Siregar, M.Ag dan Wakil Dekan III Drs. H. Mumu Abdurrahman, M.Pd.

Upaya membangun harapan di tengah pandemi Covid-19, Tatang Muttaqin, Ph.D., mengurai bagaimana pandemi ini memberi hikmah maju bersama dengan menekan kesenjangan pendidikan dengan pemanfaatan TIK. Kebijakan
afirmatif dan perkuatan sekolah swasta menjadi penting untuk meningkatkan perwujudan mencerdaskan kehidupan bangsa.

Sekilas potret pendidikan ikhtiar belajar praktik baik membangun sistem pendidikan bermutu. Pembelajaran juga diarahkan pada peningkatan kompetensi, tak semata mengejar gelar, Quo vadis gelar akademis. Strategi meningkatkan
kebekerjaan lulusan PT juga sangat penting.

Sebagai contoh para santri melakukan inovasi mengulas kontribusi meningkatkan kesejahteraan masyarakat, termasuk: Tawaran Islam berkemajuan Muhammadiyah; Pendidikan Islam Nusantara NU; dan Pendidikan Persis. Perbaikan pengelolaan Pendanaan Penelitian agar berkontribusi signifikan untuk pendidikan dan pembangunan.

Menurutnya, cara merawat harapan itu harus bersinergi dengan pola sikap dan perilaku warga bangsa yang lebih modern dan kosmopolit ditandai pesona sikap ramah untuk menunjukkan identitas bangsa berperadaban tinggi dan bersahabat. “Peradaban yang tinggi merupakan osmosis atau perpaduan yang menyaratkan keterbukaan untuk melakukan interaksi dengan beragam suku, agama dan budaya,” paparnya.

Pentingnya silaturahmi untuk menjembatani realitas kebhinekaan menjadi berkah. Kecintaan
terhadap bangsa dengan bersyukur untuk kedamaian; keinsyafan bertoleransi; menghindari disonansi kognitif; menyadari pentingnya saling mengenal karena tak kenal maka tak sayang.

“Rasa hormat pada yang lebih tua dan kasih sayang terhadap yang muda diurai dalam memuliakan lanjut usia,” pungkasnya. (Tor)***

Bebras Biro UIN Bandung Gelar Seminar Computational Thinking untuk Madrasah Hebat Bermartabat

Bebras Biro UIN Bandung Gelar Seminar Computational Thinking untuk Madrasah Hebat Bermartabat

Bandung – Perdana, Bebras Biro UIN Bandung mengadakan seminar bertajuk “Madrasah Hebat Bermartabat melalui Computational Thinking” yang dilaksanakan via aplikasi Zoom dan live Youtube, Sabtu (13/02/2021).

Kegiatan seminar ini diinisiasi dan kolaborasi antara dosen-dosen relawan CT dari Fakultas Sains dan Teknologi (FST), Fakultas Tarbiyah dan Keguruan (FTK) UIN Sunan Gunung Djati Bandung ini merupakan langkah awal memperkenalkan pentingnya Computational Thinking (CT) di dunia pendidikan era Industri 4.0 dan Society 5.0, khususnya untuk guru-guru Madrasah dan Pondok Pesantren (Pontren) di wilayah Jawa 1

Turut hadir menyapa, Dr. Ir. Inggriani Ketua (NBO) Bebras Indonesia yang mengapresiasi kegiatan tersebut. Hadir pula memberikan sambutan sekaligus membuka acara, Rektor UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Prof. Dr. H. Mahmud, M.Si meyakini program CT yang dicanangkan menyempurnakan prestasi Madrasah yang saat ini bukan lembaga yang biasa tetapi sebuah lembaga pendidikan yang luar biasa yang bisa mengimplementasikan pesan-pesan dari Undang-Undang, yang dengan tetap mengutamakan iman dan taqwa serta ilmu pengetahuan dan teknologi.

Direktur Jenderal Pendidikan Islam, Kementerian Agama, Republik Indonesia, Prof. Dr. H. Muhammad Ali Ramdhani, S.TP., MT turut hadir memberikan arahan dalam kegiatan ini. “Madrasah memiliki kemampuan dan potensi yang mempuni, ketika diasah bukan hanya ruang lokal, tetapi pada ruang global juga menjadi orang-orang hebat. Misi besar kita salah satunya mengarahkan anak bangsa untuk memiliki kemampuan computational thinking yang sangat baik.” tuturnya.

Seminar yang dihadiri lebih dari 160 peserta yang merupakan Guru-guru Madrasah dan Pontren, khususnya di wilayah Jawa 1 ini menghadirkan 4 narasumber, antara lain Prof. Dr. Chaerul Roochman, M.Pd yang menyampaikan materi “Program Computational Thinking untuk Madrasah dan Pontren”, Dindin Nasrudin, M.Pd yang menyampaikan “Pendidikan di Era Industry 4.0 dan Society 5.0”, Dr. Yana Aditia Gerhana, S.T., M.Kom yang memaparkan “Pengenalan Computational Thinking dan Informatika”, serta Nur Lukman ST., M.Kom yang memperkenalkan “Bebras, Bebras Challange, dan Gerakan PANDAI”.

Isu strategis pentingnya menciptakan Sumber Daya Manusia (SDM) yang unggul di era transformasi digital menjadi salah satu dasar pentingnya CT untuk peserta didik. “CT sebagai pola berfikir sistematis dalam problem solving menjadi akselerasi berfikir untuk menguasai masa depan, karena itulah perlu segera bergerak men-CT-kan Madrasah dan Pontren, khususnya di Jawa Barat, yang memiliki potensi luar biasa.” papar Prof. Chaerul, Guru Besar pada Pendidikan Fisika, Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Sunan Gunung Djati Bandung ini.

Begitupun respon dunia pendidikan di era Industri 4.0 dan Society 5.0 tidak hanya 4 C (Critical Thinking, Creativity, Collaboration, dan Communication), tetapi sekarang bertambah 1 C yaitu Computational Thinking dan 1 C lagi adalah Character. Begitu penyampaian materi yang disampaikan Dindin Nasrudin, Dosen Pendidikan Fisika Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Sunan Gunung Djati Bandung pada sesi materi kedua.

“Computational Thinking tidak hanya dimiliki Informatika”, ujar Dr. Yana, Dosen Teknik Informatika, UIN Sunan Gunung Djati Bandung, “CT adalah landasan berfikir dari pilar-pilar teknologi, bukan hanya sekedar menggunakan tools atau aplikasi, melainkan bagaimana menawarkan solusi dari sebuah masalah yang sistematis, efektif, dan efisien”.

Materi terakhir disampaikan Nur Lukman, Dosen Teknik Informatika yang memperkenalkan Bebras yang merupakan komunitas internasional yang konsen pada memperkenalkan CT dan melatih Guru dan Siswa untuk terbiasa dengan CT baik di kegiatan belajar mengajar maupun kehidupan sehari-hari. “Bebras Indonesia adalah bagian dari Bebras Internasional, yang memilki Biro-Biro dari Perguruan Tinggi sebagai mentor untuk Pelatihan CT Guru. Setiap tahun di minggu ke-2 bulan November selalu diadakan kompetisi Tantangan Bebras secara serempak seluruh dunia,” ungkap Nur Lukman.

Didukung oleh Gerakan PANDAI, Bebras Biro UIN Bandung siap mengabdi dan mendampingi Guru-guru Madrasah dan Pontren di wilayah Jawa 1 untuk sama-sama bergerak dan menanamkan CT bagi peserta didik di Madrasah dan Pontren. (Tor)***

ASN Beritegritas, Modal Bersama Jaga Kerukunan Umat Beragama

ASN Beritegritas, Modal Bersama Jaga Kerukunan Umat Beragama

Bandung – Setiap aparatur sipil negara (ASN) Kementerian Agama Republik Indonesia dituntut untuk tetap menjunjung tinggi integritas dan menjaga kerukunan umat beragama. “Jika ASN tidak memiliki integritas yang baik, maka sudah barang tentu layanan yang diberikan dari ASN terhadap masyarakat tidak akan disampaikan dengan baik, lemah, buruk. Oleh karenanya integritas buat seseorang adalah sebuah keniscayaan,” ungkap Rektor UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Prof. Dr. H. Mahmud, M.Si saat menjadi narasumber dalam acara Program Kreatif Inovatif Inspiratif Solutif (KIIS) Jadi ASN Solutif #18 bertajuk ASN, Integritas dan Menjaga Kerukunan Umat Beragama.

Acara yang diselenggarakan oleh Inspektorat Jenderal Kementerian Agama RI bekerja sama dengan Biro HDI Setjen, Humas Unit Eselon 1 Pusat, Humas Kanwil, Humas PTKN dan Kepala SPI PTKN Se-Indonesia melalui aplikasi zoom meeting dan disiarkan langsung kanal YouTube, Rabu (20/01/2021).

Selain Rektor UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Prof. Dr. H. Mahmud, M.Si., Kepala Kantor Wilayah Kementerian Maluku, Jamaludin Bugis, S.A.g, Kepala Balai Litbang Agama Jakarta, Dr. Nurudin, S.Pd.I., M.Si., tampil menjadi pembicara yang dibuka oleh Sekretaris Inspektorat Jenderal Kementerian Agama., Drs. H. Muhammad Tambrin, M. M.Pd, dengan pemantik Kepala Subbagian Tata Usaha dan Hubungan Masyarakat, H. Nurul Badruttamam, S.Ag., MA, yang dipandu oleh Eryanti Nurmala Dewi dan Abd. Karim Rahantan.

Dalam paparan materinya, Rektor UIN Sunan Gunung Djati Bandung menyampaikan jumlah ASN di Indonesia hingga 2020 berjumlah 4,2 juta orang. Kalau diestimasi dengan jumlah penduduk Indonesia yang berjumlah 250 jt, persatu orang ASN melayani 60 arang penduduk.

Terdapat empat kategori pegawai negeri dalam memberikan pelayanan, seperti yang dikeluarkan oleh Lembaga Pelayanan Publik di Amerika. Pertama, bermental bintang yang meiliki integritas baik, profesional tinggi yang mendapatkan penghargaan idelanya; Kedua, bermental Sigala (Anjing), yang meiliki integritas buruk, tapi profesional yang tinggi; Ketiga, bermental Sapi yang memiliki integritas baik, tapi profesional buruk. “Ini lebih baik daripada yang kedua karena profesional yang tinggi bisa diolah, dibina,” tegasnya. Keempat, bermental kayu rapuh yang kena rayap, yang memiliki integritas buruk, profesional rendah.

Integritas di sektor layanan publik merupakan syarat penting untuk berfungsinya negara secara efektif, untuk membangun kepercayaan publik pada institusi pemerintah, dan untuk menciptakan kondisi yang berkelanjutan dalam sektor pembangunan sosial dan ekonomi di masyarakat.

“Saya tidak tahu persis dari empat kategori ini banyaknya kita berada pada posisi yang mana, karena teman-teman dari Irjen yang sering memberikan penilaian kinerja. Intinya kita butuh sebenarnya ASN yang nomor satu yang mempunyai integritas yang baik sekaligus juga profesionalitas,” terangnya.

Menurutnya, makna integritas mengacu pada bentuk kepatuhan para pegawai pada nilai-nilai, prinsip, norma, dan peraturan tata kelola sektor publik. Dalam khazanah Islam sebenarnya kategori yang disampaikan oleh lembaga itu berada pada sifat baginda Rasul Rasul yang memiliki sifat Sidiq, Amanah, Tabligh dan Fathonah. “Saya melihat Sidiq, Amanah sampai kepada Tabligh adalah ada pada posisi integritas dan Fathonah ini ada pada profesionalitas ASN kementerian Agama. Saya kira ASN Kementerian Agama akan menjadi ASN unggul dalam pemahaman saya, karena itu para perguruan tinggi, lembaga-lembaga pendidikan ini harus mempunyai empat sifat baginda Rasul, sehingga bisa dioperasionalkan dan hanya sebatas sifat tersebut dihafalkan, tetapi harus diimplementasikan dalam kehidupan keseharian sebagai ASN,” jelasnya.

Budaya integritas di sektor publik hanya akan terbentuk apabila ada hukum dan peraturan yang clear dan bervisi. Pegawai negeri perlu dibimbing menuju integritas melalui instrumen dan proses lain, seperti langkah-langkah sistematis mengadopsi norma-norma etika dan nilai-nilai layanan publik.

Sebagai pelayan publik, ASN bertanggung jawab membangun kerukunan beragama. Mereka harus benar-benar melepaskan interest pribadi dan keyakinan dalam melayani publik yang beragam keyakinan.

Berkenaan dengan menjaga kerukunan umat beragama, ketika memiliki integritas yang baik, “dalam rangka memberikan layanan tidak akan pilih kasih, akan lepas dari interest pribadi maupun kepercayaan, sehingga tidak ada istilah lain yang dilayani yang satu agama, tapi ke semuanya dilayani lepas dari keyakinan. Ini seharusnya dimiliki oleh ASN dengan integritas yang baik,” paparnya.

Para ASN harus memahami bahwa kerukunan umat beragama adalah prasyarat keberlanjutan eksistensi sebuah negara. Sebaliknya, konflik antar umat beragama adalah prasyarat runtuhnya tatanan negara yang berdampak pada nasib para ASN.

Soal kerukunan dalam Islam itu bukan merupakan sebuah pilihan, tetapi kerukunan itu merupakan sebuah keharusan. “Ini merupakan doktrin teologis. Jadi di dalam ajaran Islam menjaga kerukunan itu sudah ada doktrinnya. Secara teologis dalam surat al-kafirun, Allah sudah menyatakan lakum diinukum waliyadin, agamamu untukmu, silahkan laksanakan sesuai dengan keyakinan dan agamanya. Sebenarnya menjaga kerukunan adalah sebuah keharusan bukan pilihan,” tuturnya.

Ketika negara dilanda konflik dan organisasi pemerintah terganggu, yang menjadi korban adalah para ASN. Sumber penghidupan mereka bisa terganggu dan bahkan hilang. Oleh sebab itu, mengusahakan kerukunan beragama pada dasarnya adalah memelihara nasib dirinya sendiri para ASN.

Apalagi Indonesia yang sudah ditakdirkan begitu beragam. Ajaran agama pun merekomendasikan untuk kita senantiasa menjaga kerukunan. “ASN yang memiliki integritas tinggi, maka sudah bisa dipastikan bahwa dia akan menjadi bagian dari anak bangsa yang menjaga kerukunan umat beragama adalah merupakan syarat, modal bersama untuk terciptanya sebuah negara yang aman, nyaman, damai sebuah negara yang kita cinta ini,” ujarnya. (Tor)***