Atasi Persoalan Keluarga, Pusat Pembelajaran Keluarga Kota Bandung Jalin MoA dengan Fakuktas Psikologi UIN Sunan Gunung Djati

Atasi Persoalan Keluarga, Pusat Pembelajaran Keluarga Kota Bandung Jalin MoA dengan Fakuktas Psikologi UIN Sunan Gunung Djati

Bandung – Fakultas Psikologi UIN Sunan Gunung Djati Bandung melakukan Memorandum of Agreement (MoA) dengan Pusat Pembelajaran Keluarga (Puspaga) Kota Bandung di Pendopo Kota Bandung, Senin (15/03/2021).

Bersama tiga perguruan tinggi lain, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Universitas Islam Bandung (Unisba), Universitas Padjajaran (Unpad).
Langkah ini dilakukan sebagai bentuk komitmen untuk mewujudkan Bandung Unggul.

Ketua Puspaga Kota Bandung, Siti Muntamah Oded mengatakan, dalam membangun Bandung Unggul maka harus dimulai dengan membentuk keluarga harmonis, dan mampu menghadirkan fungsi keluarga agar melahirkan sumber daya yang berkualitas.

“Puspaga yang kecil ini terus membantu dalam urusan keluarga dan anak, terutama pola asuh anak yang hari ini tantangannya sangat luar biasa,” tuturnya.

Tak bisa dipungkiri, menurut Siti, pihaknya kerap kali menemukan permasalahan-permasalahan di lingkup keluarga yang tak bisa diselesaikan sendiri. Sehingga membutuhkan peran serta dari para akademisi.

“Melalui MoA antara Puspaga dan akademisi diharapkan dapat membantu dalam penanganan permasalahan keluarga, termasuk di dalamnya mengenai anak dan perempuan,” terangnya.

“MoA ini menjadi sebuah kebahagiaan dan menjadi sebuah titik sejarah awal perubahan yang masif. MoA ini akan mengurai permasalahan-permasalahan yang dihadapi,” tuturnya.

Sementara itu, Wali Kota Bandung, Oded M Danial mengatakan, dalam mewujudkan visi misi Kota Bandung maka diperlukan tiga pilar, yaitu desentralisasi, inovasi, dan kolaborasi.

“Ini yang dijadikan pegangan untuk menghadirkan perbaikan di Kota Bandung,” tuturnya.

Dekan Fakultas Psikologi,  Dr. Agus Abdul Rahman, M.Psi., Psikolog menyampaikan terima kasih atas kepercayaan pemerintah Kota Bandung yang sudah melibatkan UIN Sunan Gunung Djati dalam rangka mewujudkan Bandung Unggul. “Ini menjadi salah satu ikhtiar bersama empat kampus dalam melakukan Tri Dharma Perguruan Tinggi, sehingga upaya mewujudkan Bandung Unggul dapat dimulai dari ketahanan keluarga karena madrasah pertama berada pada Ibu dan di rumah,” tegasnya.

Mudah-mudahan dengan adanya MoA pihak kampus dapat memberikan kontribusi positif terhadap masyarakat, khususnya Kota Bandung. (Tor)***

 

Ridwan Kamil: Pengendalian Populasi, Solusi Dinamika Pembangunan di Jabar

Ridwan Kamil: Pengendalian Populasi, Solusi Dinamika Pembangunan di Jabar

Gubernur Jawa Barat (Jabar) Ridwan Kamil menjadi narasumber webinar Universitas Paramadina “The Implementation of Regional Economy in West Java” secara virtual dari Gedung Pakuan, Kota Bandung, Rabu (14/10/20). (Foto: Pipin/Humas Jabar)

Bandung –Populasi menjadi sumber dinamika dan masalah pembangunan di provinsi dengan populasi hampir 50 juta jiwa per tahun 2019. Pasalnya, penduduk akan berebut sumber daya, tata ruang, sekolah berkualitas, fasilitas kesehatan, hingga transportasi. Untuk itu, pengendalian populasi menjadi salah satu solusi dinamika pembangunan di Jabar.

Hal tersebut diungkapkan Gubernur Jawa Barat (Jabar) Ridwan Kamil saat menjadi narasumber web seminar (webinar) Universitas Paramadina “The Implementation of Regional Economy in West Java”, Rabu (14/10/20). Selain itu, sebagai provinsi dengan jumlah penduduk terbesar di Indonesia, Jabar memiliki jumlah penduduk yang hampir sama dengan negara Korea Selatan dan dua kali lipat penduduk Australia.

“Tugas kami sebagai pemerintah adalah menyiapkan keseimbangan antara perebutan sumber daya tersebut,”Jadi dari ukuran jumlah penduduk, saya (sebagai gubernur) seperti mengurus dinamika sekelas negara,” ujar Kang Emil melalui konferensi video dari Gedung Pakuan, Kota Bandung, Selasa (14/10).

Merujuk data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jabar per 2019, Jabar sendiri memiliki luas wilayah lebih dari 35 ribu kilometer persegi dengan 27 kabupaten/kota yang terdiri dari 18 kabupaten, 9 kota, 627 kecamatan, 645 kelurahan, dan 5.312 desa.

Selain populasi yang menjadi sumber dinamika pembangunan, Emil mengatakan bahwa secara ekonomi dalam pemerintahan terdapat ketidakadilan fiskal terhadap Jabar dari pemerintah pusat. Hal ini berpengaruh terhadap pelayanan publik dan penggerakan ekonomi.

“Penduduk kami banyak (hampir 50 juta jiwa) tapi daerah yang mengelolanya sedikit, hanya 27 daerah. Berbeda dengan (misalnya) Jawa Timur dengan jumlah penduduk 40 juta jiwa dikelola oleh 38 daerah. Sementara (selama ini) anggaran berbanding lurus dengan jumlah daerah, bukan jumlah penduduk,” kata Kang Emil.

Maka, menurutnya, pemekaran wilayah menjadi salah satu solusi dalam upaya meningkatkan pembangunan daerah di Jabar. “Jadi ada hal-hal yang sedang kami perjuangkan dari sisi pelayanan publik dan ekonomi secara politik yaitu pemekaran wilayah. Jadi kami berharap Jabar idealnya memiliki lebih dari 40 daerah (kabupaten/kota),” lanjutnya

Selain bicara dinamika pembangunan, Emil juga turut memaparkan keunggulan Jabar sebagai rumah bagi para investor sektor manufaktur. Ia menjelaskan, alasan Jabar diminati investor antara lain karena infrastruktur Jabar dibanding daerah lainnya dianggap terbaik sebagai pendukung investasi serta SDM yang sangat produktif.

Selain itu, pariwisata dan pertanian juga menjadi sektor unggulan Jabar. Sementara pascapandemi COVID-19 yang turut berdampak terhadap ekonomi Jabar,  Emil berujar pihaknya mengusung tujuh potensi ekonomi regional baru di Jabar. Diantaranya adalah  meraup peluang investasi perusahaan yang pindah dari Tiongkok khususnya ke kawasan Rebana, swasembada pangan, swasembada teknologi atau konversi manufaktur ke arah 4.0,  mendorong peluang bisnis di sektor kesehatan sebagai center of excellence (pusat keunggulan) kesehatan,  ekonomi digital,  penerapan ekonomi berkelanjutan, dan pariwisata lokal. (Tor)***

Baca juga: Ridwan Kamil Temui Demonstrasi Buruh se-Jabar di Depan Gedung Sate

Ridwan Kamil Tinjau Kesiapan Fasyankes COVID-19 di RSKIA Kota Bandung

Ridwan Kamil Tinjau Kesiapan Fasyankes COVID-19 di RSKIA Kota Bandung

Gubernur Jawa Barat (Jabar) Ridwan Kamil yang juga Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanggulangan COVID-19 Jabar meninjau Fasilitas Pelayanan Kesehatan (Fasyankes) rujukan COVID-19 di Rumah Sakit Khusus Ibu dan Anak (RSKIA) Kota Bandung, Selasa (15/9/20). (Foto: Yogi P/Humas Jabar)

Bandung – Gubernur Jawa Barat (Jabar) Ridwan Kamil yang juga Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanggulangan COVID-19 Jabar meninjau Fasilitas Pelayanan Kesehatan (Fasyankes) rujukan COVID-19 di Rumah Sakit Khusus Ibu dan Anak (RSKIA) Kota Bandung, Selasa (15/9/20).

Peninjauan dillakukan untuk memastikan kesiapan fasilitas perawatan di rumah sakit rujukan COVID-19, mulai dari Instalasi Gawat Darurat (IGD), Intensive Care Unit (ICU), High Care Unit (HCU), hingga ruang isolasi, masih memadai.

“Peninjauan kali ini dilakukan untuk mengecek persiapan darurat COVID-19 terkait ketersediaan (ruang perawatan) Fasyankes, saya lihat dari semua rumah sakit pemerintah selain RSHS, RSKIA juga yang paling baik, termasuk kelengkapan ruangan isolasinya,” kata Ridwan Kamil dalam keterangan tertulis Pemprov Jabar

Dalam peninjauan tersebut, Kang Emil juga mengecek fasilitas perawatan bagi pasien terkonfirmasi positif dengan gejala (simtomatik) maupun Orang Tanpa Gejala (OTG) atau asimtomatik serta kontak erat dan kasus suspek. Menurutnya, ruang perawatan RSKIA sebagai salah satu rumah sakit rujukan COVID-19 di Kota Bandung cukup memadai.

“Ada beberapa lantai yang masih kosong dan kalau pun dikonversi ini sangat memadai sebagai ruang isolasi pasien COVID-19,” kata Kang Emil.

Ia menambahkan, kasus COVID-19 yang diisolasi di RSKIA Kota Bandung memiliki tingkat kesembuhan yang cukup tinggi, yaitu dari 110 pasien yang dirawat kini tersisa 10 pasien.

“Artinya, tingkat kesembuhan (di RSKIA) memang cukup banyak dan sangat layak sebagai tempat rujukan isolasi,” ujar Kang Emil.

Selain meninjau RSKIA di Kota Bandung, Kang Emil juga akan mengecek fasilitas perawatan bagi pasien COVID-19 di RSUD Kota Depok pada Selasa (15/9) sore WIB.

Lewat kunjungan untuk memastikan tingkat keterisian rumah sakit rujukan COVID-19 ini, Gugus Tugas Percepatan Penanggulangan COVID-19 Jabar sekaligus membuat upaya penguatan dan pemetaan rumah sakit rujukan COVID-19 di Jabar. (Tor)***

Baca Juga : Diameter Jarum Suntiknya Agak Besar, Ridwan Kamil Paparkan Rasanya Jalani Penyuntikan Ke Dua Uji Klinis Vaksin Covid-19

Intensifkan Pembinaan Kesehatan Keluarga, PKK Kota Bandung Canangkan Gerakan Bangga Kencana Kesehatan dan Posyandu

Intensifkan Pembinaan Kesehatan Keluarga, PKK Kota Bandung Canangkan Gerakan Bangga Kencana Kesehatan dan Posyandu

Bandung – Tim Penggerak Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) Kota Bandung mencanangkan Kesatuan Gerak PKK Bangga Kencana Kesehatan dan Posyandu tingkat Kota Bandung Tahun 2020 di Aula Graha Binangkit, Selasa 15 September 2020.

Pencanangan tersebut merupakan upaya intensifikasi PKK dalam program Kesatuan Gerak Bangga Kencana dan program pembinaan kesehatan keluarga dengan melibatkan lintas sektoral.

Program tersebut bertujuan untuk meningkatkan cakupan pelayanan yang merata dalam upaya meningkatkan kesehatan keluarga, mulai dari lingkungan rumah yang bersih, sehat, dan berkualitas.

Wali Kota Bandung Oded M. Danial menuturkan, program ini merupakan kegiatan yang terintegrasi dan memadukan berbagai unsur masyarakat demi merujudkan pengaturan kelahiran, kesehatan, dan kesejahteraan keluarga.

“Upaya ini juga untuk menegaskan komitmen terhadap perbaikan kualitas hidup keluarga yang berorientasi pada penguatan akses terhadap kemampuan sosial, ekonomi, pendidikan, dan lingkungan,” tutur Oded yang hadir untuk membuka acara.

Menurutnya, Kesatuan Gerak PKK Bangga Kencana Kesehatan dan Posyandu bersifat strategis. Keduanya membantu perencanaan masa depan keluarga serta mewujudkan masyarakat sehat dan sejahtera.

“Apalagi kegiatan yang dilaksanakan dengan prioritas peningkatan perilaku hidup bersih dan sehat di tatanan rumah tangga. Itu sejatinya bisa menumbuhkan budaya sehat dalam ruang lingkup yang lebih luas lagi,” imbuhnya dalam keterangan tertulis Pemkot Bandung.

Gerakan tersebut juga diharapkan bisa membantu pemerintah mengatasi stunting serta memutus mata rantai penyebaran Covid-19. Minimal membantu menyosialisasikan kebijakan Adaptasi Kebiasaan Baru (AKB).

“Saya optimis tugas-tugas tersebut bisa dilaksanakan dengan baik. Karena didukung jaringan PKK yang menjangkau setiap RT dan RW. Ditambah dengan sikap pengabdian tanpa pamrih dan kedekatan emosional para kader dengan kelompok sasaran,” ucap Oded.

Kegiatan ini diintegrasikan dengan program pemerintah dan kampanye lainnya, seperti Bandung Tanginas, Bandung SAE, dan Kang Pisman. (Tor)***

Baca Juga – Markas Pejuang Covid-19 : Dari Juliana, Ranca Badak Hingga Hasan Sadikin

Kelurahan Campaka dan Yayasan Buddha Tzu Chi Bedah 4 Rumah Warga

Kelurahan Campaka dan Yayasan Buddha Tzu Chi Bedah 4 Rumah Warga

Suasana renovasi rutilahu di Kecamatan Andir (Foto : Dok. Humas Pemkot Bandung) 

Bandung – Kelurahan Campaka Kecamatan Andir Kota Bandung berkolaborasi dengan Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia Kantor Perwakilan Kota Bandung membangun 4 unit rumah tidak layak huni (Rutilahu) di RW 07 dan 06.

Masing-masing rumah memperoleh bantuan sekitar Rp40-45 juta.
Dana tersebut untuk membuat rumah menjadi sehat. Salah satunya dengan membuatkan septic tank di setiap rumah. Pembangunan ditargetkan tuntas dalam waktu sebulan.

“Persyaratan rumah sehat harus ada septic tank. Ada yang minta tidak perlu dibangun septic tank. tetapi kita tetap akan membuatkannya. Karena kita mengajarkan masyarakat untuk hidup sehat,” jelas Koordinator lapangan Yayasan, Mardius saat ditemui Humas Kota Bandung di RT 04 RW 07 Jalan Terusan Margasari, Kota Bandung, Jumat 28 Agustus 2020.

Mardius mengungkapkan, sebetulnya target pembangunan program bedah rutilahu tahun ini yaitu sebanyak 200 Unit.

“Karena keterbatasan akibat pandemi, jadi kita batasi dulu, target kita 200 unit di tahun ini,” katanya.

Sementara itu, Eri (44) salah satu penerima manfaat program bedah rumah ini sangat berterima kasih atas bantuan dari Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia tersebut.

“Saya ucapkan terima kasih kepada seluruh aparatur kewilayahan serta yayasan. Saat musim hujan rumah saya rubuh. Semuanya bocor. Sedangkan untuk memperbaikinya, kami tak mampu,” akunya.

Kegembiraan yang sama pun disampaikan Lurah Campaka, Asep Aceng. Ia mengapresiasi atas kolaborasi melalui program bina lingkungan Yayasan Buddha Tzu Chi ini.

“Atas nama Pemerintah Kota Bandung, Kelurahan Campaka mengucapkan terima kasih kepada Yayasan Buddha Tzu Chi atas kolaborasi terhadap bedah rumah ini. Semoga kita bisa selalu berkolaborasi membantu warga yang membutuhkan,” tuturnya. (Tor)***

Baca Juga : Sebanyak 2.084 Drumpori Tersebar di Kota Bandung

 

Ridwan Kamil Serahkan Bantuan kepada LVRI Jabar

Ridwan Kamil Serahkan Bantuan kepada LVRI Jabar

Gubernur Jawa Barat (Jabar) Ridwan Kamil secara simbolis menyerahkan bantuan kepada Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI) Jabar di Gedung Pakuan, Kota Bandung, Selasa (18/8/20). (Foto: Yogi P/Humas Jabar)

Bandung – Gubernur Jawa Barat (Jabar) Ridwan Kamil secara simbolis menyerahkan bantuan kepada Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI) Jabar di Gedung Pakuan, Kota Bandung, Selasa (18/8/20).

Pemberian bantuan dalam rangka Hari Ulang Tahun (HUT) ke-75 Republik Indonesia (RI) ini merupakan bentuk bela negara untuk menghormati para legiun veteran –sosok pejuang yang telah menghadiahkan Kemerdekaan Republik Indonesia bagi bangsa.

“Bapak/Ibu semua telah memperjuangkan Republik Indonesia, kini gantian giliran saya yang memperjuangkan keadilan hidup bapak/ibu semua,” kata Kang Emil –sapaan Ridwan Kamil.

“Intinya, saya sudah perintahkan bahwa LVRI itu harus diperjuangkan, tidak ada tawar menawar,” tambah gubernur yang juga anggota kehormatan LVRI Jabar itu.

Adapun Pemerintah Daerah (Pemda) Provinsi Jabar melalui Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) Jabar memberikan bantuan sosial (bansos) kepada LVRI Jabar berupa 1.500 sembako, bedah 10 rumah veteran, 10 kursi roda, dan dana hibah kurang lebih Rp850 juta.

“Setiap tahun pasti ada kebutuhan tambahan, nanti akan kita siapkan dan layani sesuai dengan rasa terima kasih kita terhadap veteran,” kata Kang Emil.

Di tengah penanggulangan COVID-19, Kang Emil juga mengatakan, bentuk bela negara dirinya sebagai seorang pemimpin adalah ikut berjuang bersama rakyat dalam memutus rantai penyebaran COVID-19, termasuk dengan menjadi relawan uji klinis fase 3 vaksin COVID-19 yang tengah dilakukan oleh BUMN Bio Farma bekerja sama dengan FK Unpad.

“Saya, bersama Pangdam (III/Siliwangi) dan Kapolda (Jabar) menjadi relawan uji klinis vaksin COVID-19. Jika berhasil, saya akan (berikan) testimoni dengan buktinya ada di tubuh saya,” ucap Kang Emil dalam rilis Pemprov Jabar.

“Itulah yang dinamakan sebagai bentuk bela negara sebagai seorang pemimpin, ikut berjuang bersama rakyatnya,” katanya.

Sementara itu, Ketua DPD LVRI Jabar Mayjen TNI (Purn) Tayo Tarmadi menyatakan terima kasih kepada Gubernur Jabar atas kepemimpinannya dalam menghadapi pandemi global tersebut.

“Begitu keras perjuangan Bapak (Gubernur Jabar Ridwan Kamil) untuk menyelamatkan masyarakat Jawa Barat,” tutur Tayo.

Dirinya pun berujar, berjuang di masa pandemi COVID-19 ini merupakan perjuangan melawan musuh tak kasat mata atau yang tidak nampak.

Pun menurut Tayo, perjuangan melawan virus SARS-CoV-2 penyebab penyakit COVID-19 sudah menjadi tanggung jawab bersama.

(Tor)

Baca Juga : Ridwan Kamil Usung Pangandaran Jadi Destinasi Unggulan Jabar Pascapandemi

Pemkot Bandung Minta Warganya Terapkan Protokol Kesehatan Saat Gelar Idul Adha

Pemkot Bandung Minta Warganya Terapkan Protokol Kesehatan Saat Gelar Idul Adha

Ilustrasi. Sejumlah jamaah mengenakan masker saat menuju mesjid untuk menunaikan salat berjamaah. (Tor)

Bandung – Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung mengingatkan warga untuk tetap melaksanakan protokol kesehatan. saat melaksanakan Iduladha. Pemkot Bandung telah mengeluarkan surat edaran tentang penyelenggaraan salat Iduladha dan penyembelihan hewan kurban.

“Silahkan laksanakan salat Id berjemaah, tetapi tetap harus menerapkan protokol kesehatan,” pinta Oded di Balai Kota Bandung, Rabu 29 Juli 2020

Hal senada juga dilontarkan Wakil Wali Kota Bandung, Yana Mulyana. Ia meminta umat muslim untuk melaksanakan protokol kesehatan sesuai dengan surat edaran tersebut.

“Kita sudah mengelurkan Surat Edaran. Itu ada dari MUI (Majelis Ulama Indonesia) juga Kemenag (Kementerian Agama), ikuti saja,” kata Yana dalam keterangan resmi Pemkot.

“Asal standar protokol kesehatan yang ketat. Seperti pakai masker dan menjaga jarak,” imbuhnya.

Dalam surat bernomor: 451/SE-102.Bag.Kesra tertanggal 15 Juli 2020, setiap penyelenggaran salat Idulahda wajib melaksanakan protokol kesehatan.

Di antaranya, jika salat dilaksanakan di masjid maka hanya diperkenankan diikuti jemaah oleh sekitar 50 persen dari kapasitas masjid.

Sedangkan jika dilaksanakan di lapangan, maka jarak antar jemaah harus sekitar 1 meter.

Selain itu, para penyelenggara juga wajib menyediakan fasilitas cuci tangan, sabun, dan hand sanitizer. Selain itu, melaksanakan pengecekan suhu tubuh di pintu masuk lokasi salat.

Saat salat dan khotbah, pelaksanaannya juga diimbau untuk dipersingkat tanpa mengurangi syarat dan rukunnya.

Penyelenggara juga dilarang untuk menjalankan kotak sedekah. Pasalnya hal itu rentan terjadinya penularan penyakit.

Para jemaah wajib membawa alat salat masing-masing dari rumah. Jemaah juga diminta untuk menghindari kontak fisik.

Bagi anak-anak dan usia lanjut dianjurkan untuk tidak mengikuti salat Iduladha berjemaah.

Untk para mustahik, Yana juga meminta cukup diam dirumah, menunggu kiriman daging kurban diberikan oleh panitia.

“Penyembelihan jangan ada kerumuan. Mustahik juga cukup diam di rumah, nanti diantarkan ke rumah masing-masing,” pintanya. (Rom)***

Baca Juga : Satgas Temukan Banyak Hewan Kurban Belum Cukup Umur

5 Kebiasaan Ini akan Ngehits di Kota Bandung, Apa Aja ya ?

5 Kebiasaan Ini akan Ngehits di Kota Bandung, Apa Aja ya ?

Ilustrasi. Kota Bandung (foto: Suara.com)

Bandung – Setiap orang mengemukakan harapan dan cita-citanya di awal memasuki tahun 2020. Banyak cerita tentang hal yang ingin dicapai warga Bandung selama setahun ke depan, termasuk tren yang akan muncul mengisi tahun cantik ini.

Dikutip dari keterangan tertulis Pemkot Bandung, Berkaca pada fenomena di tahun 2019, berikut adalah tren yang diprediksi menjadi gaya hidup baru di kota kembang selama setahun ke depan. Seperti apa tren kekinian ala warga Kota Bandung? Humas Kota Bandung merangkumnya dalam ulasan berikut ini:

  1. Kang Pisman

Kampanye Kota Bandung dalam hal pengelolaan sampah sepertinya semakin digandrungi. Pada tahun 2019, Kang Pisman (Kurangi, Pisahkan, Manfaatkan) sampah telah diperkenalkan hingga ke tingkat internasional dalam acara Zero Waste City Conference (ZWCC) di Malaysia.

Partisipasi warga dalam Kangpisman terlihat dari pertumbuhan nasabah bank sampah dari 978 pada september 2018 menjadi 3.390 pada Juli 2019 atau sekitar 246%, serta menurunkan volume sampah rata-raa sebesar 852 ton sampah perbulan.

Di tahun 2020, Kang Pisman akan digenjot untuk mereduksi pembuangan sampah ke tempat pembuangan akhir yang hanya akan semakin mencemari lingkungan

Oleh karena itu, Pemerintah Kota Bandung terus mengajak warga agar menjadi bagian dari Sobat Kangpisman. Kamu mau ikut jadi penyelamat lingkungan Kota Bandung? Yuk ikut Kang Pisman!

      2. Aneka kreasi tas belanja

Kantong plastik sepertinya sudah tidak akan terlalu digunakan di tahun 2020 di Kota Bandung, apalagi jika warga Bandung berbelanja di pusat-pusat perbelanjaan.

Warga kini lebih senang menggunakan tas belanja berbahan kain atau polyester sebagai pengganti kantong plastik sekali pakai.

Mal-mal, ritel-ritel besar, hingga factory outlet di Kota Bandung sudah mulai mengalihkan kemasan belanja dari bahan plastik ke tas belanja.

Bahkan ada juga yang sama sekali tidak menyediakan kemasan belanja sehingga kita wajib membawa sendiri tas belanja jika tidak ingin kerepotan. Apalagi, kini ada banyak motif tas belanja kekinian yang juga bisa menjadi gaya fesyen baru.

       3. Gaya Pakai Tumbler

Jangan kaget lagi kalau di Kota Bandung banyak menemukan warganya membawa gelas minuman sendiri saat membeli minuman, seperti boba, kopi kekinian, atau sekadar es teh berbagai merek. Dengan membawa tempat minum sendiri, kita bisa mengurangi kemasan plastik sekali pakai.

Ke mana-mana, warga Bandung juga sudah banyak yang menggunakan botol minuman, atau bahasa kerennya, tumbler. Berbagai desain tumbler yang keren dan unik banyak dipakai sebagai tempat minum. Selain trendy, warga tak perlu lagi membeli minuman kemasan yang hanya akan menambah jumlah sampah di Kota Bandung.

       4. Cara baru pakai sedotan

Jika kamu datang ke kafe, restoran, atau kedai kopi, jangan heran melihat orang-orang yang memakai sedotan dari bahan stainless steel atau serat jerami. Kedua bahan itu kini telah digandrungi sebagai pengganti sedotan plastik

Kamu tentu tidak akan ditawari sedotan itu di kafe-kafe tersebut karena orang-orang itu telah membawa sedotan sendiri dari rumahnya.

Bahkan, ada banyak gerai makanan dan minuman di Kota Bandung yang sudah tidak lagi menyediakan sedotan plastik sekali pakai sebagai komitmen mereka dalam menjaga lingkungan. Kamu masih pakai sedotan plastik? Mulai dikurangi, ya!

Harga sedotan stainless steel atau serat jerami yang lebih sehat dan ramah lingkungan itu juga tidak mahal

Dengan kisaran harga Rp15.000 – Rp30.000, kamu bisa mendapatkan satu set (tiga jenis) sedotan berbagai ukuran dan alat pembersih.

     5. Gaul Bersepeda 

Katanya Kota Bandung jadi kota termacet? Mungkin karena masih ada orang menggunakan kendaraan bermotor hanya untuk menempuh jarak pendek. Tapi sejak Pemerintah Kota Bandung menyediakan Boseh (Bike on Street Everybody Happy) di berbagai titik, warga Bandung mulai beralih menggunakan sepeda untuk mobilisasi.

Penggunaan sepeda sebagai moda transportasi juga semakin marak, terutama oleh anak sekolah. Banyak juga komunitas sepeda tumbuh untuk mewadahi minat warga Bandung untuk berolahraga dengan bersepeda. Di tahun 2020, dipastikan bersepeda akan menjadi gaya baru warga Bandung dalam bertransportasi jarak dekat dan sedang. (Roy)***

[FOTO] Suasana Stasiun Cimekar Kota Bandung

[FOTO] Suasana Stasiun Cimekar Kota Bandung

Cocok untuk melepas penat, bagi warga Bandung Timur tentu tak akrab dengan taman dan ruang terbuka hijau sebagaimana warga di pusat kota Bandung. Namun nyatanya, hal itu bukan jadi alasan untuk bisa menikmati kesepian di tengah aktivitas kota.
Stasiun Cimekar, menjadi salah satu lokasi yang tepat untuk melepas penat. Berada dekat dengan pusat olahraga yang ramai diperbincangkan yakni stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA), stasiun ini layak bagi anda yang muak dengan keramaian akhir pekan
10 Perumahan di Kota Bandung Terdampak Proyek Kereta Cepat

10 Perumahan di Kota Bandung Terdampak Proyek Kereta Cepat

Bandung – Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung berharap sebanyak 58 bidang fasilitas sosial (fasos) dan faslitas umum (fasum) terdampak pembangunan Kereta Cepat Jakarta-Bandung segera direlokasi. Untuk itu, Wali Kota Bandung, Oded M. Danial meminta dinas terkait segera mengurusnya.

“Terkait proyek Kereta Cepat ini, kalau memang ada persoalannya segera diselesaikan secepatnya,” katanya dalam keterangan tertulis yang diterima Indo-Satu, Minggu (29/12/2019)

Perlu diketahui, prasarana, sarana, dan utilitas (PSU) yang terkena proyek kereta api cepat di Kota Bandung berada di 10 perumahan. Perusahaan tersebut di antaranya Istana Mekarwangi, Singgasana Pradana, Taman Holis Indah, Sapta Taruna PU, Topindo, Pasirpogor, Bumi Asri, Kopo Mas Regency, Banyu Biru, dan Oasis.

Dari 10 perumahan tersebut ada persoalan yang berbeda-beda. Ada 2 perumahan hampir selesai progresnya, sedangkan yang lain masih dalam proses. Ada juga tiga perumahan yang pengembangnya sudah tidak diketahui keberadaannya.

Sedangkan aset Pemkot Bandung selain PSU, ada kantin SMPN 48 yang sudah direlokasi, Puskesmas Pasawahan yang disewakan bangunan pengganti sebelum diganti bangunan baru, dan Ruang Terbuka Hijau (RTH) Bandung Kulon diselesaikan proses relokasinya dengan bidang pengganti.

Oded meminta agar ada percepatan penyelesaian hal tersebut.

“Sekarang diperkuat oleh Wakil Wali Kota, Kang Yana untuk mengawal prosesnya. Kalau ada hal kecil yang perlu dikoordinasikan jadi bisa lebih cepat karena deadlinennya ini sangat dekat,” ucapnya

Sementara itu, Kepala BPN Kota Bandung, Andi Kadandio Aleppudin mengakui saat ini ke-58 bidang tersebut harus segera diselesaikan prosesnya, karena berkaitan dengan proyek strategis nasional.

“Intinya kita harus selesaikan fasos fasum yang terkena proyek kereta cepat ini, ada 112 bidang. Tetapi yang darurat harus segera dituntaskan 58 bidang. Karena ini pekerjaan nasional, pekerjaan semua,” katanya.

Sedangkan Direktur Utama PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia (PSBI), Natal Argawan Pardede berharap bisa memanfaatkan lahan fasos dan fasum yang belum tuntas validasinya. Hal itu karena kebutuhan yang mendesak.

“Walau pun belum tuntas secara resmi, tapi proses harus berjalan, kami sudah mengirim surat izin agar konstruksi bisa masuk terlebih dahulu pada 22 November 2019 lalu. Jadi sembari kontraktor berjalan, proses administrasinya juga dalam proses penyelesaian,” pintanya. (RHM)***