Menyelami Makna Moderasi dan Toleransi Beragama Menurut Guru Besar UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Menyelami Makna Moderasi dan Toleransi Beragama Menurut Guru Besar UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Kerukunan umat beragam. (ilustrasi: wahidfoundation.org)

SIKAP adil dalam dalam beragama, saat ini sangat penting dilakukan. Lantaran, dewasa ini kerap kali muncul perpecahan yang ditengarai munucul akibat kuranngnya sikap  moderasi dan toleransi beragama.

Lantas apa sebetulnya makna moderasi dan toleransi  beragama itu. Guru Besar UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Muhibbin Syah menjelaskan Kata toleransi adalah nomina yang berasal dari kata Inggris tolerance yang berarti kelapangan dada atau kesabaran.

Kata sifatnya adalah tolerant yang dalam bahasa Indonesia disebut toleran yang berarti menghargai perbedaan. Akar kata tolerance adalah verba to tolerate yang berarti antara lain ‘bersabar menghadapi’atau ‘tahan terhadap’.

“Orang yang berjiwa toleran adalah orang yang berjiwa legowo dalam arti tidak akan mudah tersinggung apa lagi marah saat dikritik oleh orang yang memiliki pandangan, budaya, dan agama yang berbeda dengannya,”

“Sebaliknya, ia akan menghargai perbedaan dan keanekaragaman budaya, mazhab, bahkan agama sebagai realitas yang ada di muka bumi,” jelas Muhibbin yang juga Ketua Prodi S3 Pendidikan Islam UIN Sunan Gunung Djati Bandung Tersebut.

Sedangkan, moderasi adalah nomina yang berasal dari kata Inggris moderation. Artinya, sikap yang tidak berlebihan. Kata ini juga dapat berarti sikap yang sedang atau sikap yang sederhana dan tidak ekstrem.

Akar kata moderation adalah verba to moderate yang berarti membuat sesuatu  tidak berlebihan atau lunak. Selain sebagai verba, (kata kerja), moderate juga merupakan kata benda (nomina) dan kata sifat (adjektiva).

“Orang yang moderat dalam beragama adalah orang yang memiliki ketaatan beragama dengan sikap dan perilaku keberagamaan yang sedang, tidak ekstrem apa lagi radikal,” paparnya, dalam keterangan tertulis Humas UIN Sunan Gunung Djati Bandung.

Moderasi, lanjut Muhibbin adalah wawasan yang berorientasi pada sikap dan perbuatan yang tidak berlebihan atau bersikap pertengahan. Sikap dan perbuatan seperti ini dapat membuat orang menjadi moderat.

Orang moderat adalah orang yang berperilaku secukupnya dalam arti tidak kurang dan tidak lebih sehingga kebutuhannya terpenuhi tanpa perlu memubazirkan sesuatu.

Selain itu, orang moderat juga cenderung bersikap dan berbuat adil tidak hanya terhadap diri dan keluarga (kelompoknya) saja tetapi juga terhadap orang (kelompok) lain meskipun mereka tidak disukai bahkan dibenci.

“Moderasi memiliki signifikansi atau arti penting dalam kehidupan sehari-hari, karena selain dapat membuat orang menjadi moderat moderasi juga dapat membuat orang berlaku adil dan bersikap toleran dalam arti dapat bertenggang rasa dan menghargai perbedaan misalnya dalam bermazhab atau beragama,” kata Muhibbin.

Sementar moderasi beragama (religious moderation) bukan moderasi agama juga bukan modernisasi agama.

“Moderasi beragama merupakan wawasan atau cara pandang keberagamaan yang berimbang, sedang, tidak berlebihan, dan dapat membuat orang menjadi moderat dalam beragama yang menganut dan menjalankan ajaran agama dengan sikap dan perilaku keberagamaan yang secukupnya, tidak berkekurangan atau berkelebihan, juga tidak ekstrem,” ujarnya.

Alhasil, dalam ajaran Islam berbuat adil bukan hanya berlaku untuk orang atau kelompok yang sesuku, semazhab atau seagama saja melainkan juga untuk orang atau kelompok yang berasal dari suku, mazhab, dan agama yang berbeda.

“Bahkan, keadilan (fairness)  wajib ditegakkan terhadap orang yang kita benci sekalipun, kita dilarang berbuat zalim misal merampas hak seseorang walaupun kita tidak menyukai, membenci orang tersebut,” tuturnya. (Tor)***

Baca Juga  : Lulusan S3 Pendidikan Islam UIN Sunan Gunung Djati Bandung Diharapkan Kuasai Tiga Hal Ini

Lulusan S3 Pendidikan Islam UIN Sunan Gunung Djati Bandung Diharapkan Kuasai Tiga Hal Ini

Lulusan S3 Pendidikan Islam UIN Sunan Gunung Djati Bandung Diharapkan Kuasai Tiga Hal Ini

Gedung Pascasarjana UIN Sunan Gunung Djati Bandung. (Foto :Istimewa)

Bandung – Studi pendidikan islam saat ini sangat penting dalam khazanah akademik di Indonesia. Salah satu universitas islam negri di Indonesia, UIN Sunan Gunung Djati  Bandung tengah merumuskan kurikulum yang relevan untuk program studi S3 Pendidikan Islam.

Demikian di sampaika Ketua Prodi Pendidikan Islam S3 UIN Sunan Gunung Djati Bandung Muhibbin Syah dalam workshop pengembangan kurikulum bertajuk “Pengembangan Kurikulum Pendidkan Islam S3 Mengacu KKNI Berbasis Wahyu Memandu Ilmu sebagai Upaya Peningkatan Mutu Doktor Pendidikan Islam” di Hotel Shakti, Kota Bandug, Rabu (07/10/2020).

Dengan kurikulum yang tengah dirumuskan itu, diharapkan lulusan S3 Pendidikan Islam UIN Bandung setidaknya menguasai 3 hal.

“Dengan mengacu Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI) maka  lulusan Doktor S3 bisa memiliki tiga kemampuan. Pertama, mampu mengembangkan pengetahuan, teknologi, dan atau seni baru di dalam bidang keilmuannya atau praktek profesionalnya melalui riset, hingga menghasilkan karya kreatif, original, dan teruji,” ujar Muhibbin.

Adapun, lanjut Muhibbin, poin kedua yakni mampu memecahkan permasalahan sains, teknologi, dan atau seni di dalam bidang keilmuannya melalui pendekatan inter, multi atau transdisipliner.

“Adapun poin ketiga, adalah mampu mengelola, memimpin, dan mengembangkan riset serta pengembangan yang bermanfaat bagi ilmu pengetahuan dan kemaslahatan umat manusia, serta mampu mendapat pengakuan nasional maupun internasional.”  Tegasnya. (Tor)***

Baca Juga : UIN Sunan Gunung Djati Bandung Rumuskan Pengembangan Kurikulum Prodi S3 Pendidikan Islam

UIN Sunan Gunung Djati Bandung Rumuskan Pengembangan Kurikulum Prodi S3 Pendidikan Islam

UIN Sunan Gunung Djati Bandung Rumuskan Pengembangan Kurikulum Prodi S3 Pendidikan Islam

Foto : Dok. Humas UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Bandung – Pengembangan kurikulum Prodi S3 Pendidikan Islam Universitas Islam Negri (UIN) Sunan Gunung Djati Bandung harus mengacu kepada Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI) yang didasarkan pada wahyu memandu ilmu dan berusaha untuk memadukan nilai-nilai moderasi beragama.

Demikian disampaikan Direktur Pascasarjana UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Supiana saat pembukaan workshop pengembangan kurikulum bertajuk “Pengembangan Kurikulum Pendidkan Islam S3 Mengacu KKNI Berbasis Wahyu Memandu Ilmu sebagai Upaya Peningkatan Mutu Doktor Pendidikan Islam” di Hotel Shakti, Kota Bandug, Rabu (07/10/2020).

“Kami berharap workshop ini dapat melahirkan kurikulum yang lebih baik sebagai pengembangan dari kurikulum Pendidikan Islam yang  ada. Fokusnya, tidak hanya pada disertasi tetapi  bagaiamana moderasi beragama islam bisa diparaktikan dibidang pendidikan,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua Prodi Pendidikan Islam S3 Muhibbin Syah juga menyampaikan hal senada. Menurutnya, menciptakan inovasi kurikulum moderasi beragama itu caranya dengan mengkombinasi kurukulum yang ada dengan nilai-nilai moderasi beragama.

“Sehingga diharapkan bukan hanya membuat lulusan berilmu dan berketerampilan hebat melainkan juga berpikir dan berperilaku moderat,” paparnya.

Dalam workshop yang di ikuti 38 peserta itu, turut dihadiri sejumlah elemen akademisi mulai dari guru besar, dosen prodi pendidikan islam S3, dosen pascasarjana, dosen program sarjana, mahasiswa, alumni, dan pengguna lulusan. (Tor)***

Baca Juga :

Pertama di PTKIN se-Indonesia: Ushuluddin UIN Bandung Gelar Munaqosyah Artikel Ilmiah